Bab 35 Memisahkan Energi Iblis
Kediaman Keluarga Fu.
Jin Chaochao meminta pengasuh untuk memandikan Si Mingye hingga bersih.
Dua jam kemudian.
Pengasuh menuntun seorang anak laki-laki berwajah tampan menuruni tangga. Jin Chaochao menatap anak di hadapannya. Meskipun masih belia, wajahnya sudah menunjukkan pesona bocah yang manis. Setelah dibersihkan, kulit pipinya tampak putih dan bersih. Saat mengenakan kemeja putih dan rompi kecil yang baru dibeli, ia seketika memancarkan aura bangsawan yang alami.
Jin Chaochao menggandeng tangan Si Mingye lalu mengajaknya naik ke lantai atas. "Karena mulai sekarang kau akan ikut denganku, ada beberapa aturan yang harus kau patuhi."
Di dalam kamar, Jin Chaochao dan Si Mingye berdiri di depan lukisan sang nenek. "Ini adalah nenekku, berlututlah dan bersujudlah padanya!"
Si Mingye dengan patuh berlutut. Ia menatap lukisan di hadapannya; sang nenek yang tampak ramah itu penuh dengan senyuman. Senyuman itu justru membuatnya merinding, dan rasa takut mulai menjalar di hatinya.
Jin Chaochao menatapnya dengan senyum yang tetap menghiasi wajahnya, "Mingye, kenapa melamun? Bersujudlah pada nenek."
Si Mingye meniru gerakan Jin Chaochao, berlutut dan bersujud. Saat pertama kali bersujud, ia merasa pening yang luar biasa. Saat kedua kalinya, seluruh tubuh Si Mingye mulai gemetar. Dan saat ketiga kalinya, tubuhnya miring lalu jatuh pingsan.
Jin Chaochao melihatnya terkapar di lantai, dengan tenang ia menghampiri dan menggendongnya ke atas tempat tidur. Saat itulah sang nenek melayang keluar dari lukisan, nadanya terdengar sangat serius, "Chaochao, pecahan jiwa Dewa Iblis telah bangkit di dalam kesadarannya. Anak ini mungkin tidak sesederhana yang kita kira!"
"Aku tahu, sekarang kita harus mencari cara untuk memisahkan energi iblis dari tubuhnya."
Jin Chaochao merangkai segel dengan kedua tangannya, kesadarannya kembali memasuki alam bawah sadar Si Mingye. Di dunia yang hancur itu, kabut hitam pekat menyebar dengan liar. Jin Chaochao membuka telapak tangannya, dan sebilah pedang terbang muncul di genggamannya. Tanpa ragu, ia mengayunkan pedang tersebut.
Kabut hitam yang terkumpul meledak dan tercerai-berai, disertai dengan suara jeritan yang memilukan. Ia dengan cepat melemparkan selembar jimat yang menyerap seluruh kabut hitam tersebut. Begitu semua kabut terserap, secercah cahaya akhirnya muncul di dunia yang hancur itu. Saat cahaya menerangi, seluruh noda dan sampah yang berserakan di tanah lenyap seketika. Ruang itu kini hanya menyisakan warna putih yang menyilaukan.
Jin Chaochao tersentak kembali ke kesadarannya, langkahnya terasa limbung. Sambil terengah-engah, ia membuka telapak tangannya. Jimat yang tadinya berwarna kuning kini berubah menjadi ungu kehitaman yang mengeluarkan asap hitam.
"Chaochao, untunglah kau membawanya kembali. Baru berusia enam tahun tapi sudah menyerap begitu banyak dendam dan energi iblis. Jika dibiarkan, mungkin kelak dirimu sendiri pun tidak akan mampu menghadapinya," ucap sang nenek dengan wajah penuh kekhawatiran.
Takdir sebagai wadah Dewa Iblis memiliki pengaruh besar bagi manusia biasa, yang bisa mengancam nyawa jutaan orang. Jin Chaochao menatap jimat di tangannya lalu bertanya kepada neneknya, "Bagaimana cara menanganinya?"
Dengan kemampuan sekte Xuan mereka, mereka belum mampu memurnikan energi iblis yang sebesar itu. Nenek berpikir sejenak, "Gunakan teknik segel sekte Xuan, segel di dalam tasbih. Lalu bawa ke Kuil Jintan, temui Wuxin!"
Saat teringat Wuxin, wajah Jin Chaochao pun tersenyum, "Bagaimana bisa aku melupakannya."
Setelah masalah energi iblis tertangani, ia pun merasa lega. Kini, Si Mingye akan kehilangan semua ingatannya sebelum usia enam tahun. Ia akan tumbuh di sisinya seperti selembar kertas putih. Jin Chaochao bertekad untuk mendidiknya dengan baik dan melindunginya agar tidak lagi membiarkan dendam dunia menumbuhkan energi iblis di dalam dirinya. Jika ia berhasil, bukan hanya ia bisa menyelamatkan ribuan nyawa, tetapi juga memperoleh pahala yang tak terhingga.
Tepat pada saat itu, Si Mingye terbangun. Ia membuka mata bulatnya yang besar, menatap Jin Chaochao dengan rasa penasaran. "Siapa kau?"
Jin Chaochao mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya, "Panggil aku Kakak!"
Si Mingye merasa otaknya kosong, dan tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Ia menatap Jin Chaochao, entah mengapa, hatinya sama sekali tidak merasa menolak keberadaan wanita itu. Ia bahkan merasa senang saat kepalanya diusap. "Ka... Kakak!" ucapnya malu-malu.
Jin Chaochao tersenyum bahagia, "Anak pintar!"
...
Malam harinya, saat Fu Tingyuan kembali, ia mendapati ada seorang anak kecil di rumahnya. Ia mengerutkan kening menatap Jin Chaochao, "Dari mana anak ini?"
"Aku mengadopsinya dari panti asuhan, namanya Si Mingye. Mulai sekarang dia akan menjadi adikku," Jin Chaochao merasa perlu menjelaskan semuanya kepada Fu Tingyuan. Meskipun ia telah menikah dan tempat ini adalah rumahnya, Fu Tingyuan sebagai kepala keluarga memiliki hak untuk memutuskan apakah anak ini boleh tinggal atau tidak.
Jin Chaochao menarik lengan baju Fu Tingyuan dan mengajaknya keluar ruang tamu. Tanpa menyembunyikan apa pun, ia menceritakan semua hal tentang Si Mingye kepada suaminya.
Setelah mendengar penjelasan itu, Fu Tingyuan terdiam sejenak lalu berkata kepada Jin Chaochao, "Untuk hal seperti ini, kau putuskan saja sendiri. Selama dia tidak menggangguku, menambah satu orang di rumah ini hanyalah soal menambah satu pasang sumpit saja."
Mendengar hal itu, Jin Chaochao merasa tersanjung, "Terima kasih atas pengertiannya, Tuan Fu. Aku pasti akan membuatnya patuh dan kelak menjadi orang baik yang berguna bagi masyarakat."
Fu Tingyuan menatap mata Jin Chaochao yang berbinar, sudut matanya tanpa sadar membentuk senyuman. Bahkan ia sendiri tidak menyadari bahwa di depan Jin Chaochao, ia menjadi semakin lembut dan murah hati.
Begitulah, Si Mingye akhirnya tinggal di kediaman keluarga Fu.
*
Toko milik Jin Chaochao selesai direnovasi tujuh hari kemudian. Ia datang untuk memeriksa hasilnya; perabotan baru tampak indah dan rak-rak di toko tertata dengan rapi. Ia menggantung lukisan leluhur sekte Xuan di tengah ruangan, lalu menyalakan lampu abadi di dalam toko.
Di rak-rak toko, berbagai macam barang antik dipajang. Bahkan taplak meja yang menutupi meja panjang itu terbuat dari kain brokat tenunan kerajinan kekaisaran.
Bai Yexi menatap "vila" di hadapannya dengan perasaan bimbang. "Jin Chaochao, inilah yang kau sebut vila?"
Di hadapannya terdapat sebuah vila hewan peliharaan yang terpasang di dinding, seluas sekitar empat meter persegi, terdiri dari dua lantai. Di lantai bawah terdapat ayunan dan kursi gantung yang nyaman, serta berbagai mainan yang berserakan di lantai. Di lantai atas terdapat tempat tidur mini dengan set seprai putih yang bersih. Di kaca sampingnya bahkan tertempel empat karakter besar: "Vila Hewan Gaya Minimalis Mewah".
Jin Chaochao menghampiri vila kecil itu dan mengangguk puas, "Sesuai dengan ukuran yang kurancang, hasilnya sangat cantik. Lihat jendela kaca besar ini, bukankah sangat cocok untukmu?"
Wajah Bai Yexi tampak kesal. Wanita ini benar-benar tidak menganggapnya sebagai manusia. Bai Yexi berubah menjadi rubah kecil dan masuk ke dalam vila. Harus diakui, ukurannya sangat pas, bahkan lebih nyaman daripada kamar Jin Chaochao.
Jin Chaochao bertanya dengan penuh harap, "Bagaimana? Suka tidak?"
Bai Yexi tidak ingin mengakuinya, namun ia tidak bisa membohongi diri sendiri. Vila ini memang bagus. Terutama tempat tidur yang dibuat khusus sesuai ukurannya, terasa empuk dan nyaman saat ditiduri. Ia cukup menyukainya.
Melihat hal itu, Jin Chaochao menampilkan senyum licik seperti rubah tua, "Mulai sekarang, kau tinggal di sini dan jaga toko di malam hari."
Bai Yexi: "......?"