Bab Tiga: Mari Kita Lihat
Di saat seluruh Daratan Tengah tengah diguncang oleh kabar heboh tentang pelarian Nona Besar Klan Obat, sosok yang menjadi pusat dari semua keributan itu justru telah meninggalkan wilayah Daratan Tengah sejak lama.
Tentu saja, siapa bilang dia bodoh? Daratan Tengah begitu luas dan kaya raya, para tetua klan pasti akan mengira dia akan bersembunyi di sana. Jika dia benar-benar pergi ke Daratan Tengah dan bertemu dengan orang dari klannya sendiri, bukankah itu akan sangat memalukan?
Karena itu, Yao Wan memilih cara sebaliknya. Jika para tetua menduga dia akan berkeliaran di Daratan Tengah, maka dia justru sama sekali tidak akan pergi ke sana.
Setelah menyeberangi lorong ruang yang jauh dari Daratan Tengah, dengan sayap yang terbuat dari energi tempur terbentang di punggungnya, Yao Wan melesat di antara pegunungan, terbang ke arah matahari terbenam hingga semua pemandangan di matanya perlahan kehilangan bentuk gunung, barulah ia berhenti melangkah.
Ketika garis pegunungan Shennong pun telah tertutup oleh cakrawala yang luas, Yao Wan tanpa sadar menoleh ke belakang.
Sebenarnya, ini adalah pertama kalinya sejak dirinya datang ke dunia Doupo, ia benar-benar pergi keluar.
Namun, siapa sangka akhirnya akan seperti ini.
Berbagai pikiran berputar di benaknya, tetapi jika saat ini ada yang memintanya pulang, Yao Wan sama sekali tidak akan melakukannya.
Toh sudah terlanjur keluar, mau bagaimana lagi?
Bermain jangan pengecut, pengecut jangan main. Sudah berani lari, tentu bukan karena ingin “kembali ke jalan yang benar” dalam sekejap.
Setidaknya, ia harus berkeliling melihat seluruh daratan Douqi terlebih dahulu, bukan?
Begitu memikirkan hal itu, sisa-sisa kerinduan pada kampung halaman yang tadi sempat muncul pun langsung lenyap dari benaknya.
Menembus lapisan awan, di daerah liar yang jauh dari Daratan Tengah, mulai beredar sebuah legenda tentang seorang peri yang mengenakan caping dan jubah.
Konon, ada seorang peri berjubah yang menutupi penampilan dan keberadaannya, berkelana di daratan Douqi. Sambil menapaki ribuan gunung dan sungai, ia dengan santai menolong para penduduk yang sakit, kadang memberikan hadiah besar, kadang menolak menerima imbalan, semuanya tergantung suasana hatinya.
Para pasien yang telah divonis tak tertolong oleh para alkemis setempat, di tangannya justru bisa sembuh total, seolah menghidupkan kembali orang mati dan menumbuhkan daging pada tulang.
Karena pernah ada yang secara kebetulan mendengar suara peri itu merdu seperti kicau burung, maka orang-orang pun mulai memanggilnya sebagai Dewi Obat.
Dan, seperti biasa, jika seseorang mendapat gelar aneh yang tak jelas asal-usulnya, masalah pun pasti akan segera menyusul.
Seiring nama Dewi Obat semakin menyebar, selalu saja ada orang-orang yang sengaja mengikuti jejaknya, berkelana hanya demi melihat sosok Dewi Obat secara langsung.
Alasannya sih katanya ingin mengagumi, tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya hanya karena mereka tergoda.
Sudah sering melihat wanita biasa, tentu saja mereka akan penasaran pada bunga di puncak gunung yang begitu misterius, walaupun sang Dewi tidak pernah berniat menggoda mereka, toh mereka tetap saja mendekat.
Manusia memang suka mencari masalah sendiri.
Karena khawatir gelar aneh ini lama-lama akan menarik para tetua klan, Yao Wan pun kehilangan kesabaran. Beberapa orang yang membuntutinya dihajar habis-habisan, lalu dilemparkan ke sungai.
Setelah itu, ia pun buru-buru berganti lokasi, takut keburu tercium jejaknya.
Setelah sekian lama hidup berpindah-pindah seperti ini, Yao Wan pun mulai terbiasa dengan gaya hidup yang selalu berpindah setelah membuat keributan.
Setidaknya, untuk sementara waktu ia belum merasa bosan.
Hanya saja, ketika ia merasa sudah waktunya pergi ke tempat baru, tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah nama yang sangat familiar di peta negara-negara sekitar.
"...Kekaisaran Jia Ma?"
Kekaisaran Jia Ma? Di dunia ini, memang ada lebih dari satu Kekaisaran Jia Ma?
Jika tidak salah, di seluruh daratan Douqi hanya ada satu Kekaisaran Jia Ma.
Tentang itu, Yao Wan memang masih mengingatnya.
Tanpa disadari, ternyata ia sudah berkelana sampai ke sini?
...Lalu, apakah ia harus pergi melihat seperti apa sosok tokoh utama legendaris, Xiao Yan, itu?
Pikiran itu pun muncul begitu saja di hati Yao Wan.
Bagaimanapun juga, itu kan Xiao Yan.
Kalau misalnya namanya Tang, jangankan tertarik untuk mendekat, mungkin jika bertemu justru akan langsung dihabisi demi menegakkan keadilan.
Karena sudah punya rencana, Yao Wan pun tidak ingin menunda lagi.
Toh, di sini juga tidak ada hal menarik. Lebih baik langsung pergi melihat-lihat.
Dengan pikiran seperti itu, Yao Wan membuka sayap energi tempurnya dan melesat ke arah barat laut.
Menjelang matahari terbenam, Yao Wan pun tiba di wilayah Kekaisaran Jia Ma.
Sesampainya di sana, ia membeli peta Kekaisaran Jia Ma, lalu setelah mencari-cari barulah ia menemukan letak Kota Wu Tan.
"Kota Wu Tan... di sini rupanya?"
Jari-jarinya yang ramping menggeser perlahan di atas peta yang kasar, dan matanya pun tertuju pada sepetak kecil wilayah yang ditunjukkan oleh ujung jarinya itu.
...
"Kenapa! Kenapa!"
Kota Wu Tan, Keluarga Xiao.
Di ruang latihan keluarga, seorang pemuda berambut pendek hitam sudah entah untuk kesekian kalinya berusaha mengumpulkan pusaran energi tempur di tubuhnya, namun kembali gagal.
Dari semula panik, lalu menjadi kebas, dari perlawanan keras saat batas kesabaran tersentuh hingga akhirnya menyadari segala upaya sia-sia.
Sejak malam dua tahun lalu, ketika seluruh energi tempur hasil kerja keras belasan tahun lenyap begitu saja, batin Xiao Yan terus berputar dalam lingkaran seperti ini.
Sudah sewajarnya ia mencoba segala cara agar pusaran energi tempur di tubuhnya tetap stabil, dan selama dua tahun ini ia telah melakukannya tak terhitung banyaknya.
Namun, sekalipun energi tempur di dalam tubuhnya terlihat stabil saat ia mengamati dengan mata batinnya, tetap saja energi itu akan segera lenyap.
Kenapa? Jelas-jelas latihannya tidak pernah bermasalah, kenapa tetap tidak bisa maju selangkah pun?!
Selama dua tahun, di setiap malam, pertanyaan dan pikiran semacam itu selalu memenuhi benaknya.
Awalnya, Xiao Yan dan ayahnya hanya menduga ia mengidap penyakit aneh, hingga energi tempur yang dikumpulkannya sirna begitu saja dalam semalam.
Namun, semakin hari berlalu, situasinya semakin parah.
Jelas, dugaan itu pun tak lagi berlaku.
Runtuhnya seorang jenius tidak hanya membawa tekanan psikologis besar, tapi juga mengubah hubungan dengan orang lain.
Ketika tubuh Xiao Yan mulai bermasalah, seluruh anggota Keluarga Xiao datang menanyakan kabar dan memberi perhatian. Namun seiring waktu berlalu, ketika kemampuannya tak kunjung membaik, bahkan makin menurun, jumlah orang yang datang pun semakin sedikit.
Ada yang mulai memandang sinis, seolah sudah melihat kejatuhan seorang jenius yang akhirnya tak berbeda dengan orang biasa.
Ada pula yang diam-diam mengejek, sebab ketika jenius jatuh dari puncak, ayam kampung pun bisa membandingkan diri dengan burung phoenix.
Dalam dua tahun itu, yang hilang dari Xiao Yan bukan hanya status jenius, tetapi juga pelajaran pahit tentang dingin dan hangatnya dunia.
Untungnya, bahkan di saat seperti itu, masih ada orang-orang yang diam-diam memperhatikannya dan mendukungnya.