Bab 6: Sang Jelita Laksana Bunga di Menara Haining
Di ruang kerja milik Lin Jialiang, terdapat tumpukan besar buku-buku bersampul benang, termasuk Kitab Analek, Kitab Jalan Kebajikan, dan Catatan Musim Semi dan Gugur. Semua naskah itu sudah lusuh di pinggirannya, jelas telah dibaca berkali-kali.
Jari-jari Lin Su perlahan menyentuh deretan buku itu. Dalam benaknya, di atas ranting kering yang selalu ia bayangkan, belasan daun baru tumbuh diam-diam.
Tak seorang pun bakal menyangka, hanya dengan berjalan-jalan sebentar di ruang ini, ia telah berubah menjadi seorang terpelajar. Beberapa langkah saja setara dengan belasan tahun belajar keras dalam dunia ini.
Di samping deretan kitab klasik itu, terdapat sebuah buku berkulit kuning. Lin Su membukanya dan membaca judulnya: “Antologi Puisi Berwarna Dinasti Cang”. Di bagian pembuka tertulis: Buku ini menghimpun karya 371 penyair jenius selama seribu tahun Dinasti Cang, berjumlah 408 puisi, semuanya merupakan karya puisi berwarna lima dan tujuh, semerbak puisi ini turun temurun, harum sepanjang masa.
Puisi pertama, “Hujan Malam di Hutan Barat”: “Separuh kota diliputi hujan dan kabut, seribu puncak diselimuti awan, pepohonan menjulang...” Penyairnya Ren Zifu, berasal dari Wilayah Tengah Dinasti Cang, lahir pada tahun 108 dan wafat pada 146, puisi ini...
Puisi kedua, “Tulis di Dinding Lingyin”...
Puisi ketiga, “Musim Dingin”...
Setelah membaca lebih dari tiga puluh puisi, tak satu pun yang dikenalnya.
Lin Su meletakkan antologi itu dan perhatianya tertarik pada buku lain di sampingnya berjudul “Percakapan Bebas tentang Jalan Sastra”. Saat membukanya, matanya berbinar. Di buku ini tercatat secara rinci tentang Jalan Sastra di dunia ini; para pendeta agung di atas, menganugerahkan kekuatan jalan sastra kepada umat manusia: apa itu Jalan Sastra, jenjang-jenjangnya, cara menaikinya, hingga berbagai pantangan dalam dunia sastra...
Pada bagian pantangan dijabarkan dengan jelas: Bila seorang terpelajar mengalami kegagalan besar atau penghinaan di depan umum, maka dunia sastranya akan ternoda. Sekali ternoda, ide dan inspirasi akan mandek, sulit untuk berkembang lagi, bahkan parahnya, perjalanan sastra seseorang akan terputus, sama saja dengan menjadi manusia yang sia-sia...
Jantung Lin Su bergetar ringan. Ternyata sebuah pertemuan sastra benar-benar bisa menghancurkan jalan hidup seseorang, membinasakan satu kehidupan penuh perjuangan!
Ia membuka laci di bawah meja belajar. Begitu ditarik, semerbak wangi aneh menyeruak. Di dalamnya, selembar kertas kuning membungkus setengah batang dupa, warnanya keemasan, seolah terbuat dari emas murni. Inilah yang disebut “Dupa Suci” dalam buku tadi.
Lin Su berpikir sejenak, lalu mengambil setengah batang dupa itu dan menyimpannya dengan hati-hati di dalam bajunya.
Dari pintu ruang belajar terdengar suara lirih. Lin Su segera berbalik dan melihat Xiaoyao.
Xiaoyao membawa semangkuk besar bubur, “Kakak, ternyata kau di sini, aku mencarimu ke mana-mana.”
“Bagaimana kondisi Kakak Kedua?” tanya Lin Su.
“Sudah tidur, Kakak Tao yang menjaga. Ini, kau minumlah bubur ini. Ibu—eh, Nyonya bilang, badanmu juga lemah, jangan sembarangan.”
Lin Su menelan setengah mangkuk bubur, perutnya mulai merasa hangat. Tiba-tiba ia melihat sudut bibir Xiaoyao berkilat bening...
Lin Su tak tega melanjutkan makannya, “Kau belum sarapan, ya?”
Xiaoyao mengangguk, lalu menggeleng, “Tadi malam aku makan sepotong adonan, masih kenyang, sungguh, aku tak lapar...” Suaranya bergetar, menahan liur yang menetes.
Lin Su sodorkan sisa bubur padanya, “Minumlah.”
Xiaoyao sempat ragu, lalu menerima dan segera menghabiskan bubur itu. Setelahnya, ia bahkan menjilati dasar mangkuk, sehingga hampir tak perlu dicuci lagi.
Lin Su bertanya, “Xiaoyao, mau makan daging?”
Daging? Tenggorokan Xiaoyao bergerak, sudut bibirnya kembali menitikkan air liur. Ia perlahan menggeleng, “Kak, Kak Tao bilang di rumah sudah tak ada daging, sungguh...”
“Bukan, aku akan mengajakmu pergi ke jamuan, sekalian makan enak gratis...”
Mata Xiaoyao tiba-tiba berbinar, seperti dua bintang kecil.
Soal menghadiri jamuan, Lin Su dan Xiaoyao segera sepakat. Namun, ketika giliran menyampaikan pada ibunya, mereka menemui hambatan. “Apa katamu? Kau mau ke jamuan? Itu pertemuan para sastrawan... Apa urusanmu di sana?”
Lin Su mengeluarkan undangan. “Tapi, Bu, mereka sudah mengirim undangan. Jika keluarga Lin tidak hadir, apa kata orang? Mereka akan bilang keluarga kita tak punya siapa-siapa, bahkan dosa kita dianggap makin besar karena tak berani muncul di muka umum.”
Pertahanan di hati sang ibu mulai goyah.
Setelah hening cukup lama, sang ibu berkata, “Kau juga dengar tadi, pertemuan ini tidak biasa, mungkin saja ini cara keluarga Zhang menekan kita...”
“Memangnya apa yang bisa mereka tekan? Aku bahkan tak punya akar sastra, apa jalan hidupku masih bisa diputus?”
Ucapannya itu benar-benar menghilangkan kekhawatiran terakhir dalam hati ibunya. Ya, keluarga Zhang mungkin memang ingin berbuat onar di pertemuan itu, meski menghadiri tetap berisiko, namun apa lagi yang bisa hilang dari Si Bungsu?
Tak punya apa-apa, maka tak ada yang harus ditakutkan hilang!
Wajah ibunya perlahan melunak, “...Hanya saja, jangan sampai sifat lamamu kambuh, sedikit-sedikit mudah marah... Sudahlah, lebih baik banyak mendengar, sedikit bicara!”
“Baik!” Lin Su menarik tangan Xiaoyao dan berjalan keluar rumah.
Gadis kecil itu buru-buru mengusap sudut bibirnya yang basah, lalu berangkat dengan riang.
Perjalanan menuju Menara Haining.
Sepanjang jalan, Lin Su menengadah menatap langit, dalam hati ia berbisik, “Mulai hari ini, beban berat keluarga Lin, biar aku yang memikulnya.”
Menara Haining tak jauh, berdiri di sisi timur Kota Haizhou, menghadap langsung ke Sungai Panjang, dikelilingi dedaunan willow yang melambai lembut. Di musim seperti ini, sayang rasanya jika tempat seindah itu tidak dijadikan ajang berkumpul para pujangga.
Dari luar, menara itu tampak hanya tiga lantai, tidak lebih dari sepuluh meter tingginya. Namun, begitu melangkah masuk, Lin Su terperangah, hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Di tengah berdiri sebuah aula utama, dikelilingi bangunan bertingkat di keempat sisi, dan jelas-jelas bangunannya lebih dari sepuluh lantai, menjulang hingga empat puluh hingga lima puluh meter!
Ada dua orang yang masuk bersamaan dengan Lin Su dan Xiaoyao. Salah satunya tampak juga terkejut dengan pemandangan aneh itu, hingga temannya menjelaskan, “Ini adalah kekuatan agung Jalan Sastra!”
“Lihatlah tulisan yang tergantung di lorong itu!”
Huruf “Bangkit”!
Tulisan itu merupakan karya tangan langsung sang Mahaguru Besar, Deng Xianchu. Menara Haining mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkannya. Begitu tulisan itu digantung, kekuatan Jalan Sastra mengubah ruang dan waktu, menara tiga lantai seketika menjadi dua belas lantai di dalamnya!
Lin Su melongo, satu tulisan saja bisa menambah sembilan lantai dalam sekejap—bayangkan jika tulisan seperti itu dibawa ke kota besar, nilainya pasti tak terbayar dengan segunung emas...
Di mana Xiaoyao?
Lin Su mengikuti arah tatapan Xiaoyao dan mendapati kedua mata mereka tertuju pada meja penuh ayam panggang dan kambing bakar di kedua sisi.
“Gulp!” Keduanya menelan ludah bersamaan.
Begitu menjejakkan kaki di pintu masuk Menara Haining, mereka langsung dihadang oleh seorang pelayan. Pelayan itu tersenyum, “Tuan Muda Ketiga Lin, sudah lama tak jumpa. Maaf, hari ini menara sedang digunakan untuk acara penting, jadi pertarungan ayam dan anjing ditunda dulu, ya.”
Tampaknya pelayan itu mengenalnya!
Tapi, apa maksudnya? Apakah dirinya dulu hanya dikenal sebagai tukang taruhan ayam dan anjing saja?
Lin Su memasang wajah serius, “Apa maksudmu? Hari ini aku datang untuk menghadiri acara penting kalian!”
“Kau? Hahaha...” Pelayan itu tertawa.
Dengan gerakan cepat, Lin Su mengacungkan undangan ke depan wajah pelayan itu. Tawa pelayan langsung terhenti, matanya membelalak.
Lin Su berjalan penuh percaya diri melewati pelayan itu, naik ke lantai dua. Lagi-lagi, ia menunjukkan undangan, dan petugas di lantai dua menyambut dengan sopan, “Tamu kehormatan dari keluarga Lin, satu orang!”
Di meja perjamuan, para pelajar serentak menoleh. Di tempat terdekat ke sungai, beberapa pelajar yang sedang bercanda juga memandang ke arahnya. Di bawah jendela kanan, seorang wanita berkerudung tipis mengangkat tangan indahnya, “Zheng!” sebuah petikan kecapi menyambut tamu baru.
Mendadak semuanya terdiam. Jika keluarga Lin hadir, seharusnya yang datang adalah Lin Jialiang, namun yang menaiki tangga adalah seorang pemuda bersih dan elok. Beberapa dari mereka mengenali, itu bungsu keluarga Lin, terkenal tak pandai sastra maupun bela diri, bahkan kabarnya sempat menghilang beberapa waktu lalu. Apa yang sedang terjadi? Para pelajar saling berbisik, bingung.
Lin Su melihat sekeliling, hendak duduk di sembarang tempat.
Namun, seorang pemuda berwajah makmur di kursi teratas berdiri dan memberi salam, “Tuan Muda Ketiga, kakakmu tidak datang?”
Lin Su sempat tertegun, lalu melihat ke sekeliling, kemudian bertanya pada pemuda di sampingnya, “Siapakah pemuda yang tampak makmur itu?”
Orang di sampingnya menjawab, “Itu Tuan Zhang Xiu, pelajar nomor satu di Wilayah Qu. Tuan Muda Ketiga kan pernah bertemu dulu, mengapa hari ini lupa?”
Lin Su tersenyum, “Maaf, Tuan Zhang, aku baru saja sembuh dari sakit berat, banyak kenangan tak penting yang terlupakan...”
Senyum di wajah Zhang Xiu agak kaku. Maksudnya, dirinya termasuk kenangan yang tidak penting?
Namun, wajahnya kembali ramah, “Tuan Jialiang dikenal dekat dengan Nona Yulou. Hari ini Nona Yulou mengadakan perjamuan perpisahan, mengapa justru Tuan Jialiang tak hadir? Apa sebabnya?”
Lin Su menjawab, “Ibu sedang sakit. Kakak saya menulis ‘Tulisan Penyalur Energi’ dua kali sehari untuk pengobatan ibu. Sekarang ibu sedikit membaik, tapi kakak justru jatuh sakit. Maka, saya datang menggantikan kakak menghadiri jamuan perpisahan Nona Yulou. Senang berkenalan, mohon maklum.”
Ia memberi salam hormat kepada semua yang hadir.
Sebuah suara terdengar, “Yulou tidak tahu keadaan keluarga Lin, tiba-tiba mengirim undangan, mohon maaf atas ketidaksopanan.”
Lin Su menoleh ke kiri.
Di sana, di balik tirai manik-manik, ada sekumpulan wanita rumah bordil, tepatnya lima kelompok kecil, masing-masing berpusat pada satu wanita cantik yang dikelilingi beberapa pelayan, bak bintang-bintang mengelilingi rembulan.
Yang bertanya adalah wanita di pusat kelompok itu, berpakaian mewah, kulit seputih salju, alis bak pegunungan di kejauhan, mata beningnya seperti danau musim semi. Meski tampak muda, setiap gerak matanya menyiratkan kematangan dan pesona yang dalam.
Dialah tokoh utama jamuan hari ini: Yulou.
Hati Lin Su bergetar, inikah wanita yang dipuja kakak keduanya? Benar-benar luar biasa—cerdas, santun, dan memesona.
Lin Su tersenyum, “Untung semua sudah berlalu. Kakak saya hanya kelelahan karena menulis, tidak apa-apa, beberapa hari istirahat akan pulih.”
Yulou menarik napas lega, “Tuan Muda Ketiga, silakan duduk dan nikmati hidangan.”
Di balik tirai manik-manik, para wanita di lima kelompok itu saling bertukar pandang, masing-masing melihat sesuatu yang tak biasa. Mereka adalah para primadona—Qin Xiangjun dari Gedung Seratus Bunga, Li Rushi dari Gedung Dewa Cengkih, Du Yuebo dari Gedung Mabuk Semerbak...
Semuanya gadis idaman para tamu, bunga-bunga kenangan dalam mimpi...
Hari ini, Yulou akan pensiun, saudari-saudarinya berkumpul untuk melepas kepergiannya.
Meski rumah bordil disebut tempat tanpa cinta, tetap ada setitik kasih dan kenangan di dalamnya.
Bagi mereka, pensiun adalah seperti terlahir kembali—sangat penting dan dinanti.
“Saudari, Tuan Muda Kedua Lin tidak datang hari ini, kau percaya dia benar-benar sakit?” tanya Qin Xiangjun dengan nada sendu.
“Hari ini hari penting, mengapa dia justru absen dengan alasan sakit?” sahut Li Rushi. “Benar-benar... Dulu para tamu setia, sekarang semua berubah...”
Du Yuebo menghela napas, “Sudahlah, jangan bicara begitu. Keluarga Lin sudah jatuh, Tuan Muda Kedua datang atau tidak, tak banyak bedanya...”
Bisikan di balik tirai tak terdengar sampai ke aula, hanya Yulou yang bisa mendengarnya. Ia tak berkata apa-apa, hanya menghela napas pelan, menahan semua di bibirnya.
Petikan kecapi melengking pelan, seluruh aula sunyi.
Lin Su menengadah. Seorang wanita berbusana mewah melangkah ke tengah, “Para cendekia, hari ini adalah perjamuan perpisahan Nona Yulou, sekaligus pengangkatan Nona Banruo sebagai primadona baru. Karena itu, Menara Haining mengundang para cendekia untuk menjadi saksi, semoga pena-pena kalian mampu melukiskan kisah indah malam ini.”
Obrolan lirih di sekitar membuat Lin Su paham, apa itu ‘perpisahan dari menara’, apa itu ‘pengangkatan primadona’. Sederhananya, primadona lama pensiun, yang baru naik takhta. Primadona adalah ratu rumah bordil, begitu diangkat, statusnya bukan wanita biasa, tapi wanita kenamaan. Nilainya melonjak, bahkan pejabat pun merasa terhormat diterima primadona.
Setelah wanita mewah itu selesai bicara dan bertepuk tangan, delapan wanita cantik muncul dari belakangnya. Mereka adalah para primadona ternama di lantai tiga Gedung Yuxiang. Beriringan menuju tirai manik-manik, menyingkapnya, membungkuk serempak, “Kami mohon Nona Yulou membawakan Lagu Perpisahan.”
"Lagu Perpisahan", wajib dimainkan saat primadona lama turun takhta, sebagai ucapan terima kasih kepada para tamu dan mengakhiri masa kejayaan—lalu semua berpisah.
Yulou berdiri menghadap saudari-saudarinya, memberi salam, lalu berkata, “Tiga belas tahun aku berada di menara ini, berkat para cendekia dan tamu yang begitu memanjakan dan menyayangi, aku sangat berterima kasih. Kini usiaku bertambah, tak lagi mampu melayani, atas izin Mama, aku mengucapkan selamat tinggal dengan lagu ini sebagai ungkapan terima kasih dan penghormatan pada masa muda.”
Setelah kata perpisahan diucapkan, ia kembali ke belakang kecapi, menurunkan tangan yang ramping, dan... “Ding dong...”
“Kala senja tiba, tak ada bunga kuning, timur dan selatan terpisah, air mengalir menanggung duka, hatiku seperti rembulan, tak tercapai keinginan, aula megah terlalu tinggi, tak bisa menemanimu di sisi...”
Alunan kecapi mengalun lembut, suara nyanyiannya merasuk kalbu, setiap kata dan bait seperti desahan lirih dari hati terdalam. Seluruh ruangan terdiam, hanya tersisa lirik-lirik puitis, petikan kecapi bagai lukisan, dan nada-nada nan syahdu yang bergetar lembut di udara...