Bab 100: Menuju Kota Nanwu
Mochuan perlahan membuka matanya.
Dengan lincah, ia langsung bangkit berdiri.
“Sial, berapa lama aku pingsan?”
Mochuan mengusap kepalanya, hingga saat ini, ia masih merasakan nyeri menusuk di kepala.
Ia segera mencoba berkomunikasi dengan ruang sistem.
Biasanya, Mochuan menaruh ponselnya di dalam ruang sistem, demi mencegah kerusakan saat bertarung.
Detik berikutnya.
Mochuan mengeluarkan ponsel dari ruang sistem, menyalakannya, lalu melihat tanggal.
“Astaga... Aku pingsan hampir sebulan?!”
Mochuan cukup terkejut.
Yang ia ingat, seberkas cahaya melesat keluar dari giok dan menembus ke otaknya.
Lalu, di dalam benaknya muncul pengetahuan warisan Ilmu Pedang Xuantian, tapi di saat bersamaan, rasa sakit kepala yang luar biasa menghantamnya, sampai ia langsung tak sadarkan diri.
Tak disangka, sekali pingsan, langsung sebulan penuh.
Baru saja tadi, ia akhirnya terbangun.
“Untung saja aku sudah di tingkat sembilan Qi, dengan energi sejati yang terus mengalir dan menutrisi tubuh. Tidak makan setahun pun tidak masalah, kalau tidak, mungkin aku sudah jadi praktisi kultivasi pertama yang mati kelaparan dalam sejarah.”
Mochuan menggelengkan kepala, tersenyum pahit.
Para kultivator selalu dikenal misterius dan kuat.
Kalau benar dirinya mati kelaparan, itu akan jadi bahan tertawaan sepanjang masa di kalangan para kultivator.
Setelah itu, Mochuan merenung, mulai memikirkan tentang warisan Ilmu Pedang Xuantian.
Walau ia sempat kehilangan kesadaran akibat cahaya dari giok, warisan itu sungguh-sungguh telah ia dapatkan.
“Hanya saja, untuk saat ini aku belum bisa mempraktikkan Ilmu Pedang Xuantian, kekuatan mental masih terlalu lemah.”
Mochuan menghela napas, “Aku harus naik ke tahap Fondasi, baru kekuatan mentalku cukup untuk itu.”
Ilmu Pedang Xuantian memang punya syarat yang tinggi pada kekuatan mental.
Inti dari teknik itu adalah mengendalikan pedang terbang dengan kekuatan pikiran.
Hanya mereka yang kekuatan mentalnya cukup kuat, mampu mengendalikan pedang terbang.
Sekarang, kekuatan mental Mochuan masih terlalu lemah. Jangan kan menggerakkan pedang, menggerakkan selembar kertas saja belum sanggup.
Mochuan juga menduga, pingsannya kemarin kemungkinan besar berkaitan dengan kelemahan mentalnya.
“Jadi, Ilmu Pedang Xuantian, sebaiknya nanti saja setelah masuk tahap Fondasi.”
Mochuan bergumam pelan.
Tiba-tiba.
Dari dinding terdengar suara gemuruh, sebuah pintu rahasia perlahan terbuka.
“Ini gerbang ujian tahap keempat?”
Mochuan tertegun sejenak.
Ia segera melangkah maju, masuk ke pintu rahasia itu.
Di balik pintu.
Tempat ujian tahap keempat.
Di tengah ruangan berdiri sebuah batu prasasti.
Sama seperti pada ujian-ujian sebelumnya, selain prasasti itu, tak ada apa pun di sana.
Mochuan mendekat ke prasasti, menatap dengan saksama.
Di atasnya tertulis tiga huruf besar—Ujian Ketekunan.
“Ujian Ketekunan? Jadi, yang diuji kali ini adalah ketekunan?”
Mochuan sempat bingung, lalu mengulurkan tangan, menempelkan telapak di prasasti.
Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, hanya ada sebuah prasasti di sini, bagaimana cara menguji ketekunan?
Namun detik berikutnya.
Ekspresi Mochuan langsung berubah.
Tangan yang menempel di prasasti mulai bergetar hebat.
Sakit!
Sakit sekali!
Teramat sangat sakit!
Dari prasasti itu mengalir energi aneh, begitu menyentuhnya, rasa sakit yang luar biasa menembus telapak tangan.
Seluruh tangan bergetar dan kejang-kejang.
Tak lama, energi itu merambat ke seluruh tubuh lewat tangan yang menempel.
Akhirnya, rasa sakit itu menyebar ke seluruh badan.
Mochuan pun menggigil dan kejang-kejang.
Keningnya dipenuhi keringat dingin.
Bahkan, beberapa kali ia nyaris menarik kembali tangannya karena tak tahan menahan sakit.
Tapi ia tidak melakukannya.
Ia tahu, jika menarik tangan dari prasasti, artinya ia menyerah otomatis dari ujian ini.
Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah bertahan menahan sakit, sampai ujian dinyatakan selesai.
“Jadi, begini cara ujian tahap keempat...”
Mochuan menggertakkan gigi, keningnya penuh peluh.
Jika mampu bertahan pada rasa sakit ini, berarti lulus ujian ketekunan.
Jika tidak, berarti ketekunan tidak memadai.
Sesederhana itu.
“Arrgh!” Mochuan mengerang pelan, menahan rasa sakit yang amat sangat.
Waktu berlalu lama.
Hingga Mochuan hampir tak mampu menahan lagi.
Akhirnya.
Rasa sakit itu perlahan menghilang.
Mochuan terengah-engah, tubuhnya berhenti bergetar.
“Akhirnya selesai, sepertinya aku lolos.”
Di wajah Mochuan muncul senyum tipis, ia menarik telapak dari prasasti.
Saat itu juga, di permukaan prasasti muncul barisan tulisan.
“Ujian Ketekunan, lulus.”
Lalu muncul lagi barisan tulisan.
“Hadiah: Pergilah ke Kebun Obat Sekte, di dalamnya boleh memilih tiga tanaman obat spiritual sesukamu.”
“Kebun Obat Sekte?”
Mata Mochuan berbinar, penuh harap. “Kebun obat sekte kuno, pasti banyak tanaman obat langka di sana.”
Sembari berpikir demikian.
Tiba-tiba.
Tanah bergetar.
Di bawah kaki Mochuan muncul cahaya terang.
Gelombang ruang terasa di udara.
Detik berikutnya.
Mochuan lenyap dari tempat semula.
...
Sebuah kebun obat kuno.
Gemuruh.
Ruang bergetar.
Seorang pemuda tiba-tiba muncul di sana.
Tak lain adalah Mochuan.
“Hampir saja kaget.”
Mochuan menghela napas, lalu melihat sekeliling, terkejut, “Jadi, ini kebun obat.”
“Hanya sekejap, langsung berpindah tempat. Cahaya di bawah kaki tadi, jangan-jangan... formasi ruang?!”
Hanya formasi ruang yang bisa memindahkan seseorang seketika dari satu tempat ke tempat lain.
“Sepertinya memang begitu.”
Mochuan memastikan.
Ia mulai melangkah, mengamati kebun obat itu.
Namun setelah diamati, kening Mochuan berkerut, wajahnya pun berubah suram.
Seluruh kebun obat itu, tak ada satu pun tanaman obat spiritual yang hidup, atau lebih tepatnya, semuanya sudah mati.
Yang tersisa hanyalah tumpukan abu dan sisa-sisa kering di tanah.
Itulah sisa-sisa dari tanaman obat yang telah layu ribuan tahun.
Mata Mochuan menajam, ia menghela napas penuh penyesalan, “Setelah ribuan tahun, semua tanaman obat punah.”
Di bawah gerusan waktu, semua akhirnya tak bisa lepas dari kehancuran.
“Haih.” Mochuan berjalan di kebun obat, menatap tumpukan abu di mana-mana, hatinya terasa perih.
Padahal sebelumnya ia begitu berharap, siapa sangka semua tanaman sudah mati.
Sia-sia saja ia senang.
Namun, saat ia nyaris putus asa.
Langkah Mochuan terhenti, ia menemukan sesuatu.
Keningnya terangkat, ia berjongkok, lalu mengais di antara abu, menemukan sebuah biji berwarna hitam.
Mochuan mengamati biji itu dengan seksama.
“Ding! Selamat, tuan rumah menemukan satu biji Buah Yuanqing!”
Saat itu juga, suara sistem terdengar.
“Buah Yuanqing? Ini biji Buah Yuanqing?!”
Wajah Mochuan berseri-seri, senyum puas pun muncul.
Mendapatkan satu biji Buah Yuanqing, perjalanan ini tidak sia-sia.
Apa itu Buah Yuanqing?
Itu salah satu bahan untuk membuat Pil Fondasi.
Pil Fondasi harus dibuat dari tiga tanaman utama—Rumput Penguat, Buah Yuanqing, dan Bunga Cahaya Merah.
Jika bisa mengumpulkan ketiganya, Pil Fondasi bisa dibuat.
Sekali ia menelan Pil Fondasi, ia bisa langsung meloncat dari tahap sembilan Qi ke tahap Fondasi!
“Dengan memanfaatkan esensi hidupku, aku bisa mempercepat pertumbuhan biji Buah Yuanqing ini, sehingga mendapatkan buahnya.”
“Jadi, selama aku bisa menemukan Rumput Penguat dan Bunga Cahaya Merah, Pil Fondasi bisa dibuat.”
“Fondasi, tinggal menunggu waktu!”
Mochuan tersenyum tipis.
Setelah itu.
Ia terus berjalan di kebun obat, mencari-cari, siapa tahu masih ada biji tanaman obat lain.
Sayang sekali, ia tak menemukan apa pun.
Setelah ribuan tahun berlalu, tak hanya tanaman, bahkan bijinya pun sudah jadi abu.
Setelah mencari lama tanpa hasil, akhirnya Mochuan menyerah.
“Saatnya kembali.”
Mochuan bergumam.
Karena tak menemukan biji lain, kebun obat ini tak ada lagi nilainya untuk ditinggali.
“Sia-sia saja hadiah tiga tanaman obatku.”
Mochuan begitu kecewa.
Hadiah lulus ujian keempat adalah tiga tanaman spiritual.
Tapi ia hanya dapat satu biji saja.
Sungguh perbedaan yang sangat besar.
Mochuan berjalan keluar dari kebun obat, kembali ke tempat awalnya dipindahkan.
Seperti perkiraannya, cahaya kembali muncul di bawah kaki, gelombang ruang terasa.
Detik berikutnya.
Mochuan menghilang dari tempat itu.
...
Tempat ujian tahap keempat.
Gelombang ruang muncul.
Seorang pemuda tiba-tiba muncul.
Tak lain adalah Mochuan.
Ia telah kembali.
Gemuruh.
Dinding bergetar, sebuah pintu rahasia perlahan terbuka.
“Ujian kelima sudah dimulai?”
Melihat itu, Mochuan tersenyum tipis.
Hadiah ujian keempat memang mengecewakan.
Tapi ia berharap hadiah di ujian kelima akan jauh lebih baik.
Mochuan pun melangkah maju, hendak memasuki pintu itu.
Namun saat itu, cahaya kembali muncul di bawah kakinya.
Gelombang ruang yang familiar terasa.
“Eh?”
Mochuan terkejut, mengerutkan kening, “Apa aku akan dipindahkan kembali ke kebun obat?!”
Detik berikutnya.
Mochuan menghilang dari tempat itu.
...
Laut Selatan, dasar laut.
Gelombang ruang muncul.
Seorang pemuda tiba-tiba muncul.
Mochuan.
“Apa aku... dipindahkan keluar dari istana peninggalan?!”
Mochuan menatap air laut di sekitarnya, melihat ikan yang berenang melewati, terkejut.
Sebelumnya, ia memburu Qing Ruyan, sampai ke dasar laut, lalu dikecoh dan dibawa masuk ke istana peninggalan.
Sekarang, ia kembali ke dasar laut, keluar dari sana.
“Tunggu, aku ingat Qing Ruyan pernah bilang, jika ingin keluar dari istana peninggalan...”
“Ada dua pilihan: tinggal selama sebulan penuh, lalu dipaksa keluar oleh istana, atau lolos semua ujian dan keluar lebih awal.”
“Lalu...”
“Aku pingsan hampir sebulan, jadi ini sudah sampai waktu maksimal, aku dipaksa keluar oleh istana?!”
Mochuan jadi tak habis pikir.
Padahal ia punya kemampuan untuk menaklukkan ujian-ujian berikutnya.
Tapi karena kecelakaan, malah terpaksa keluar.
“Yah, tidak apa-apa, kebetulan waktunya untuk ikut Pertarungan Para Jenius.”
“Hampir sebulan aku tak sadarkan diri, sekarang hanya tinggal beberapa hari lagi sebelum kompetisi itu dimulai.”
Mochuan tersenyum tipis, berenang ke permukaan, lalu menuju Pantai Selatan.
...
Pada saat yang sama.
Kota Tiannan.
Asosiasi Petarung.
Di kantor ketua, Zhou Mengmeng gelisah, mondar-mandir.
“Kenapa Mochuan belum juga kembali? Mengejar satu perempuan saja, perlu selama ini?”
Zhou Mengmeng menopang dagu di telapak tangan, menatap ke luar jendela, bibirnya sedikit manyun.
Ia tak bisa menghubungi Mochuan, sejak terdengar kabar Mochuan hampir mati akibat gangguan energi, nomor ponselnya pun sudah tak bisa dihubungi.
Sekarang mungkin sudah ganti nomor, tapi Zhou Mengmeng belum sempat menanyakannya.
“Hmph, jangan-jangan baru mengejar saja, sudah terpikat oleh perempuan jahat itu.”
Zhou Mengmeng teringat Qing Ruyan, mendengus pelan.
Memang masuk akal.
Perempuan jahat itu memang cantik memikat, sangat menarik bagi laki-laki.
Setelah beberapa saat.
Zhou Mengmeng menghela napas, berdiri.
Ia harus pergi.
Pertarungan Para Jenius akan segera dimulai.
Ia harus meninggalkan Kota Tiannan, kembali ke Ibukota Kekaisaran untuk mengikuti kompetisi.
“Hmph, Mochuan, aku sudah menunggumu berhari-hari, bahkan sampai kompetisi mau dimulai pun kau belum muncul.”
Zhou Mengmeng bergumam lagi, rona kecewa terpancar di wajahnya.
Lalu, matanya tampak khawatir.
“Apa pun yang kau lakukan, pastikan kau kembali tepat waktu untuk mengikuti Pertarungan Para Jenius...”
“Kakek sudah bilang, kali ini kompetisi akan berbeda, orang-orang dari Gunung Kunlun akan datang, dan ini berhubungan dengan kualifikasi masuk ke Dunia Kunlun, jangan sampai kau absen.”
Detik berikutnya.
Ia keluar dari kantor ketua, menuju aula utama Asosiasi Petarung.
Di depan aula, He Cheng berdiri kaku, tatapan kosong, seperti boneka kayu.
Zhou Mengmeng menghampiri, bibir mungilnya bergerak, “Dengar baik-baik, aku harus pergi, tapi kau harus tetap di sini.”
“Nanti jika Mochuan kembali, bilang padanya aku ke Ibukota Kekaisaran untuk mengikuti Pertarungan Para Jenius.”
Mendengar itu, He Cheng membungkuk hormat, “Baik.”
Dalam hatinya, Zhou Mengmeng ingin mengeluh.
Dari mana Mochuan menemukan pelayan seperti ini?
Kaku, tampak tidak bisa diandalkan.
Sambil menggeleng, Zhou Mengmeng meninggalkan Asosiasi Petarung Tiannan, memulai perjalanan kembali ke Ibukota Kekaisaran.
“Kali ini, sekalian aku akan bilang langsung pada Kak Manxuan, bahwa Mochuan masih hidup.”
Bibir Zhou Mengmeng melengkung manis, senyum bahagia merekah.
Ji Manxuan dan Mochuan, selain sebagai saingan, juga teman baik yang saling menghargai.
Sejak kabar Mochuan gugur tersebar, pasti Kak Manxuan juga sedih.
Kali ini, ia akan membawa kabar baik tentang Mochuan yang masih hidup, Kak Manxuan pasti akan bahagia.
...
Tak lama setelah Zhou Mengmeng pergi.
Asosiasi Petarung Tiannan kedatangan seorang pemuda.
Mochuan.
Ia merasakan kehadiran He Cheng di sana, jadi ia datang.
“Tuan.”
He Cheng pun merasakan kehadiran Mochuan, segera muncul di hadapan sang tuan.
“Eh, kenapa cuma kamu? Zhou Mengmeng mana?”
Mochuan bertanya dengan kening terangkat.
Zhou Mengmeng adalah ketua asosiasi di sini, seharusnya juga ada.
Namun ia tidak melihat sosok Zhou Mengmeng.
“Tuan, Nona Zhou sudah pergi ke Ibukota Kekaisaran...”
He Cheng menjelaskan dengan hormat, menceritakan semuanya.
Mochuan mengangguk, berkata pelan, “Dia ke Ibukota Kekaisaran, pasti untuk ikut Pertarungan Para Jenius.”
“Aku juga. Saatnya pergi dan ikut kompetisi itu.”
Selesai bicara, Mochuan berbalik, keluar dari Asosiasi Petarung Tiannan.
He Cheng mengikuti dengan hormat di belakangnya.
...
Pertarungan Para Jenius, pada babak awal akan memilih 100 jenius dari masing-masing empat wilayah: timur, barat, selatan, utara.
Kemudian, 400 jenius dari keempat wilayah itu akan bertarung, disaring menjadi 100 orang terbaik.
Mereka inilah 100 nama dalam Daftar Jenius.
Terakhir, seratus orang ini akan bertarung lagi, menentukan peringkat di Daftar Jenius.
Mochuan memutuskan, kali ini ia akan mengikuti babak awal di wilayah selatan.
Mengapa?
Karena babak awal di wilayah selatan pasti diadakan di Kota Nanwu.
Dan musuh besarnya, Xiong Shaoqing, pasti juga ikut seleksi di sana.
Ini kesempatan terbaik menyelesaikan dendam di antara mereka.
Dalam perjalanan menuju Kota Nanwu, Mochuan sempat pulang ke rumah keluarga Mo di Kota Yunshan.
Ia meninggalkan He Cheng di rumah, untuk menjaga keamanan keluarga Mo.
He Cheng berada di tingkat tujuh seni bela diri, lebih kuat dari kepala keluarga Lin, Sun, dan Xue.
Dengan He Cheng berjaga, keamanan keluarga Mo jelas meningkat.
“Pastikan lindungi setiap anggota keluarga Mo.”
Perintah Mochuan.
“Baik, Tuan.”
He Cheng membungkuk hormat.
Setelah semua beres, Mochuan melanjutkan perjalanan.
...
Beberapa jam kemudian.
Kota Nanwu.
Mochuan berdiri di tepi jalan, akhirnya sampai di pusat seni bela diri wilayah selatan.
“Pantas saja disebut pusat seni bela diri wilayah selatan.”
Ia mengamati orang yang berlalu-lalang di sekitarnya, terkagum-kagum.
Setiap orang yang lewat ternyata seorang petarung!
Tak ada satu pun orang biasa!
Sangat kontras dengan kondisi di Kota Yunshan.
Mochuan tetap berdiri di tepi jalan.
Tak lama kemudian.
Dua sosok muncul di hadapannya.
Mereka adalah Xiong Taicheng dan Xiong Xuan, ayah dan anak.
Setibanya di Kota Nanwu, Mochuan langsung menghubungi keduanya untuk datang.
“Tuan.”
Xiong Taicheng dan Xiong Xuan menatap Mochuan dengan hormat.
“Ada perkembangan terbaru dari Xiong Shaoqing?”
Tanya Mochuan.
Ia sengaja membiarkan ayah-anak itu tetap hidup, bahkan memasang racun boneka pada mereka, supaya mereka bisa jadi mata-mata di keluarga Xiong, mengawasi Xiong Shaoqing setiap saat.
“Lapor Tuan, belakangan di Kota Nanwu muncul satu peninggalan kuno, Xiong Shaoqing pergi ke sana.”
Lapor Xiong Taicheng.
“Oh, di Kota Nanwu juga ada peninggalan kuno?”
Mochuan sedikit terkejut.
“Benar, banyak petarung yang sudah ke sana.”
Jawab Xiong Xuan.
“Bagus, kalau Xiong Shaoqing ada di sana, kebetulan aku ingin melihat-lihat juga.”
Senyum tipis terukir di wajah Mochuan, “Lama tidak bertemu ‘sahabat lama’, jadi rindu juga rasanya.”