Bab 64 Bertarung Sekali Lagi
Peng Wei menatap kotak kayu hitam yang dibawa di punggung Lin Luo, lalu bertanya dengan penasaran.
Lin Luo mengangguk pelan.
“Kau pakai pedang? Sampai harus disimpan dalam kotak kayu hitam seperti itu, jangan-jangan isinya pedang pusaka?”
Peng Wei terus bersikap berlebihan.
“Pedang pusaka apanya,” sahut Wu Guoqiang dengan wajah penuh garis hitam mendengar ucapan Peng Wei. “Lin Luo itu pengguna tombak.”
“Tombak?”
Mendengar penjelasan Wu Guoqiang, yang lain pun mendekat, rasa ingin tahu terpancar jelas saat menatap kotak kayu hitam di punggung Lin Luo.
Seorang pendekar yang menggunakan tombak, sekarang ini, nyaris tidak pernah ditemui!
“Boleh lihat?”
Tian Zhen tampaknya sangat tertarik pada senjata jenis tombak.
“Tentu.”
Lin Luo lalu menurunkan kotak kayu hitam yang lebar dan panjang itu. Begitu tutupnya dibuka, seberkas cahaya dingin langsung menyemburat keluar.
“Tombak Fang Tian!”
Melihat tombak Fang Tian yang terbelah dua dan terbaring di dalam kotak, pupil mata Peng Liang dan yang lain mengecil.
Senjata seperti ini, pada zaman kuno, hanya digunakan oleh pendekar perkasa. Dan sangat jarang ada yang benar-benar menguasainya.
“Senjata macam ini… apa bisa dipakai bertarung?”
Jiang Long pun tak tahan untuk bertanya. Meski tombak Fang Tian ini tampak begitu gagah dan garang, dalam pertarungan nyata, apa benar-benar efektif?
“Berapa beratnya?”
Peng Liang memandang Lin Luo.
“Kira-kira lima puluh kilo.”
Jawab Lin Luo.
Lima puluh kilo!
[Rasa terkejut dari Peng Liang, poin +5]
[Rasa terkejut dari Jiang Long, poin +5]
[Rasa terkejut dari Tian Zhen, poin +5]
[Rasa terkejut dari Xiao Liang, poin +5]
“Kau sanggup menggunakannya?”
Tanya Tian Zhen dengan penasaran. Kini mereka berempat semakin ingin tahu, bagaimana Lin Luo bisa memakai senjata seperti itu.
Hanya Wu Guoqiang yang tahu, Lin Luo pernah menggunakan tombak Fang Tian ini untuk menumbangkan seorang pendekar tingkat satu papan atas.
Saat itu, kekuatan Lin Luo pun baru saja mencapai standar pendekar tingkat satu.
“Bagaimana kalau kau coba bertarung dengan Lin Luo? Tak boleh memakai tenaga dalam, kekuatan harus ditekan sampai setara pendekar tingkat satu saja,” kata Wu Guoqiang sambil melirik Peng Liang, sudut bibirnya terangkat.
“Oh? Kau yakin mau dia melawanku?”
Peng Liang terkekeh mendengar ucapan itu. Ini kali pertama ia melihat pendekar yang menggunakan senjata seperti itu. Bila kekuatan Lin Luo tak seberapa, ia sudah lama ingin mencoba bertarung dengannya. Namun sekarang, kata-kata Wu Guoqiang justru membuat matanya berbinar.
“Lin Luo, bagaimana?”
Wu Guoqiang melirik Lin Luo.
“Kalau menang, Paman Peng Liang pasti akan memberimu hadiah,” Wu Guoqiang memberi isyarat pada Lin Luo.
Dengan kekuatan yang ditekan, pertarungan ini murni menguji penguasaan senjata. Lin Luo masih punya peluang untuk menang. Lagipula, kalau kalah pun, itu tetap jadi pengalaman bertarung.
“Kalau begitu, aku ingin pil pemurnian.”
Mata Lin Luo langsung berbinar dan ia pun segera menyebut permintaannya.
“Hahaha, Wu tua, anak yang kau bawa ini benar-benar menarik,” Peng Liang tertawa lepas.
“Baik, mari kita bertarung. Kalau kau menang, akan kuberikan sepuluh pil pemurnian kualitas menengah, bagaimana?”
Peng Liang sangat percaya diri. Meski ia tak boleh memakai tenaga dalam dan harus menekan kekuatan ke level yang sama dengan Lin Luo, ia tetap yakin bisa menang.
“Supaya kau tak merasa aku menindas, kau boleh memakai tenaga dalam. Kalau tidak, aku takut tombak itu saja tak akan mampu kau ayunkan.”
“Baik!”
Lin Luo mengangguk tanpa ragu. Tawaran seperti ini, siapa yang bodoh menolaknya?
Peng Liang dan yang lain sempat tertegun. Mereka kira Lin Luo yang dianggap jenius itu pasti akan menolak, ternyata ia justru menerima dengan sangat cepat.
“Bagus! Ayo, kita mulai!”
Peng Liang kembali tertawa. Ia mengayunkan tangan kanannya, dan sebuah pedang perang yang tersimpan di rak senjata di sisi lain ruangan melayang ke tangannya dalam sekejap!
Mata Lin Luo pun sedikit berbinar melihat pemandangan itu.
Inikah kekuatan pendekar tingkat tiga papan atas?
Tanpa ragu, Lin Luo segera merakit tombak Fang Tian miliknya.
Melihat Lin Luo mengangkat tombak Fang Tian yang tampak besar dan berat itu, Tian Zhen dan yang lain pun semakin penasaran.
Benarkah ia mampu menggunakannya?
“Kalau begitu, aku mulai.”
Begitu suara Peng Liang jatuh, ia langsung menghunus pedang perang dan menerjang ke arah Lin Luo!
Meski kekuatannya ditekan ke tingkat satu, tapi itu level tertinggi di tingkat itu.
Dasar licik.
Lin Luo pun tersenyum kecut. Tapi ia segera melepaskan seluruh tenaga dalam, lalu mengarahkannya ke kedua tangan.
Dengan ledakan tenaga dalam, ditambah efek latihan otot semalam, tombak Fang Tian seberat lima puluh kilo itu kini terasa ringan di tangan Lin Luo.
Dengan kedua tangan menggenggam tombak, ia menyongsong tebasan pedang Peng Liang!
Dentuman keras menggema disertai percikan api saat kedua senjata saling beradu.
“Hebat juga,” ujar Peng Liang, kaget karena tangannya yang memegang pedang bergetar hebat. Ia jadi makin terkejut. Lin Luo yang tampak kurus itu, rupanya punya kekuatan yang tak bisa diremehkan.
Lin Luo menahan tombaknya, melompat mundur, lalu menebas secara diagonal.
Biasanya, senjata sebesar itu sulit untuk diayunkan cepat. Namun tebasan Lin Luo kali ini tetap gesit.
Peng Liang sama sekali tak ingin adu kuat secara langsung, ia terus bergerak lincah, menghindari beberapa serangan Lin Luo.
Di saat berikutnya, ia menjejakkan kaki dan melesat ke hadapan Lin Luo, hendak menebas tubuh Lin Luo dengan pedangnya.
Pupil mata Lin Luo mengecil, ia segera mengangkat tombak untuk menangkis tebasan Peng Liang.
Kekuatan tebasan itu sangat besar hingga membuat kedua tangan Lin Luo yang memegang tombak Fang Tian bergetar hebat, tubuhnya terpaksa mundur beberapa langkah.
Peng Liang tak memberi jeda, terus berusaha menyerang dari jarak dekat.
Lin Luo mulai merasa kewalahan. Senjata panjang paling rentan bila musuh berhasil mendekat. Apalagi langkah kaki Peng Liang begitu gesit, hingga dengan mudah bisa mendekat ke arahnya.
Berkali-kali serangan dilancarkan, Lin Luo nyaris tak bisa membalas.
“Nampaknya, tombak Fang Tian itu memang hanya cocok jadi pajangan,” gumam Tian Zhen sambil menggeleng. Tadi ia sempat berharap Lin Luo bisa menunjukkan sesuatu yang menakjubkan dengan tombak itu.
Wu Guoqiang menatap Lin Luo dengan tatapan aneh, seolah merasa ada yang janggal.
Mengapa ia merasa anak ini justru masih menyimpan kekuatan?
“Sudah cukup.”
Peng Liang berkata datar.
Di saat itu, ia kembali menebaskan pedang dengan kecepatan luar biasa ke arah Lin Luo!
Ia yakin, tebasan kali ini bisa langsung membuat tombak Fang Tian di tangan Lin Luo terlepas!