Bab 47: Penyempurnaan Tubuh Sepenuhnya
Setelah kembali ke kamarnya, Lin Luo membuka kotak itu dan melihat di dalamnya terdapat sebuah pil bulat hitam yang ditempatkan dalam kotak plastik khusus. Begitu Lin Luo membuka bungkusnya, aroma samar yang mirip dengan kayu cendana langsung tercium.
“Jadi inilah barang seharga satu juta itu,” gumam Lin Luo dengan perasaan campur aduk.
Sekarang, dia hanya perlu menguatkan kulit dan daging di permukaan kepalanya, maka seluruh tubuhnya akan selesai ditempa. Inilah tahap paling berbahaya.
Biasanya, para pendekar akan menyiapkan banyak pil penguat sebelum berani menempuh tahap ini. Dengan mengonsumsi pil tersebut, proses penguatan menjadi lebih mudah dan juga memberikan perlindungan tertentu.
Lin Luo menarik napas dalam-dalam, lalu menelan pil penguat itu secara langsung. Begitu pil itu masuk ke dalam tubuh, dia segera mengendalikan kekuatan sumber dalam tubuhnya dan mengarahkannya ke kepala.
Walau kemampuan pengendaliannya semakin kuat berkat peningkatan kekuatan mental, namun menempuh kulit dan daging kepala tetap sangat berbahaya. Sedikit saja lengah, dia bisa jadi idiot seumur hidup!
Lin Luo sama sekali tak berani lengah, terus-menerus mengendalikan kekuatan sumber untuk mengalir ke atas, lalu menggunakannya untuk memperkuat kulit dan daging kepala.
Baru saja proses penguatan dimulai, Lin Luo sudah merasakan pipi dan kulit kepalanya seperti tertusuk-tusuk hebat. Dia menahan sakit luar biasa itu, berusaha agar pikirannya tetap jernih. Jika sampai pikirannya kacau gara-gara rasa sakit, akibatnya bisa fatal!
Entah karena efek pil penguat atau bukan, meski prosesnya sangat berbahaya, akhirnya Lin Luo berhasil menyelesaikannya.
“Sekarang, aku seharusnya sudah benar-benar menjadi seorang pendekar tingkat satu!”
Setelah selesai, Lin Luo mengusap kepalanya dan merasa kulit serta dagingnya tampak lebih kokoh.
Saat itu hari sudah terang. Lin Luo pergi ke kamar mandi untuk mandi air panas, lalu turun untuk sarapan dan bersiap kembali ke sekolah.
Usai pelajaran di pagi hari Minggu, Lin Luo berjalan bersama Wu Hou.
“Haha, Lin Luo, sekarang si Zhang Li pasti tidak berani lagi menantangmu,” Wu Hou tertawa sambil berjalan.
Beberapa hari terakhir, Zhang Li memang sempat ingin menantang Lin Luo lagi, namun tetap saja dikalahkan dengan mudah. Sepertinya dia sudah sadar bahwa dirinya bukan tandingan Lin Luo dan tak berani lagi bertindak gegabah.
“Oh ya, bagaimana urusan yang aku minta kemarin?” tanya Lin Luo tiba-tiba.
“Sudah dapat. Di pinggiran barat kota, ada area terbengkalai yang luas. Kita bisa latihan di sana,” jawab Wu Hou sambil menengok ke sekeliling dan bicara pelan.
“Baiklah, setelah makan aku akan menyusulmu,” Lin Luo mengangguk.
Begitu tiba di rumah, Lin Luo melihat Yu Xiaoyue sudah berbaring santai di sofa, menonton serial “Penyihir Kecil Balala” di televisi.
Melihat pemandangan itu, Lin Luo hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Lin Luo! Cepat masak, aku lapar!” seru Yu Xiaoyue tanpa menoleh dari layar televisi.
“Iya, iya,” jawab Lin Luo sambil mendecak, lalu melihat ke arah dapur. Yu Xiaoyue sudah menyiapkan semua bahan makanan.
Setelah selesai memasak dua hidangan sederhana, mereka pun mulai makan.
“Lin Luo, sore ini mau ikut kami jalan-jalan nggak?” tanya Yu Xiaoyue sambil menepuk perutnya yang kekenyangan.
“Kayaknya nggak deh,” jawab Lin Luo, teringat dengan teman-teman perempuan Yu Xiaoyue yang semuanya usil dan blak-blakan. Ia langsung merasa pusing.
“Huh, dasar nggak bisa ambil kesempatan, pantas saja jadi jomblo!” sindir Yu Xiaoyue.
“Aku memang ada urusan sore ini,” kata Lin Luo seraya menurunkan kotak kayu hitam tempat menyimpan tombak pusaka.
Kotak kayu hitam itu dilengkapi tali sehingga bisa disandang menyilang di bahu.
“Kamu mau latihan senjata itu?” tanya Yu Xiaoyue.
“Guru Yi bilang, senjata model besar dan berat seperti itu memang punya daya rusak luar biasa, tapi penggunanya harus punya stamina tinggi dan teknik yang sulit dikuasai,” ucap Yu Xiaoyue lagi.
“Melihat lengan dan kakimu yang kecil itu, baru ayun sebentar pasti sudah ngos-ngosan,” lanjutnya menyindir.
“Ngomong kayak gitu, padahal kamu sendiri bahkan nggak bisa ngangkatnya,” Lin Luo membalas.
“Sudah, kamu saja yang cuci piring, aku mau keluar dulu,” kata Lin Luo sambil mengenakan seragam tempur yang didapatnya dari undian sistem, lalu langsung pergi.
“Dasar Lin Luo nyebelin!” Yu Xiaoyue mendengus sebal. Namun, begitu teringat bahwa ia hampir bisa menguasai kekuatan sumber, senyumnya mengembang.
“Aku pasti akan menyusulmu, bahkan lebih dulu menjadi pendekar sejati!” katanya sembari mengepalkan tangan, menyemangati diri sendiri.
Nanti, Lin Luo pasti akan menangis dan minta diajari...
Yu Xiaoyue pun larut dalam khayalannya.
Sementara itu, Lin Luo menenteng kotak kayu hitam besar di punggung, sambil membawa beberapa kantong sampah keluar rumah.
Itu semua sampah yang lupa ia buang dari kamar.
Tombak pusaka itu memang sangat berat, tapi sekarang dengan kekuatan Lin Luo yang sudah meningkat, tidak lagi jadi masalah.
Ketika Lin Luo melangkah di jalan, banyak orang memandangnya penasaran.
Dari arah berlawanan, muncul seorang pria paruh baya. Di sudut matanya terdapat bekas luka, ia mengenakan topi dan menatap Lin Luo beberapa saat.
Namun, tak lama kemudian, pria itu mengalihkan pandangannya.
“Perasaanku saja, atau...” Lin Luo sempat mengerutkan kening ketika lewat di sebelah pria itu.
Ia jelas merasakan sesuatu yang aneh dari pria itu, tapi tidak tahu persis apa.
Tanpa banyak pikir, Lin Luo berjalan ke tempat sampah di depan dan membuang semua sampahnya.
“Lin Luo!”
Saat itu, Wu Hou sudah melambaikan tangan di depan. Lin Luo mengangguk kecil dan menghampirinya.
Tak ada tempat yang cocok untuk berlatih di sekitar situ, karena senjata seperti tombak pusaka terlalu besar dan mudah membahayakan lingkungan.
Setelah Lin Luo pergi, pria paruh baya tadi kembali mendekati tempat itu.
“Anak itu, pendekar juga rupanya...” gumamnya sambil mengerutkan kening.
Tadi, ia jelas merasakan aura kekuatan sumber dari tubuh Lin Luo. Biarpun orang biasa tidak bisa melihat, ia sendiri tahu betul, kulit Lin Luo tampak sudah melewati proses penguatan.
Ia melirik ke tempat sampah di sebelah, di mana tadi Lin Luo membuang sampah. Di antara tumpukan itu ada kotak dengan logo Aliansi Pendekar yang sudah diremas.
Mata pria itu menyipit, bersanding dengan luka di sudut matanya, membuatnya tampak seperti ular berbisa.
Di saat yang sama, dipandu oleh Wu Hou, Lin Luo tiba di pinggiran barat kota.
Mereka berdua mengayuh sepeda sewaan, menempuh perjalanan cukup jauh hingga sampai di sebuah pabrik tua yang sudah reyot.
Gerbang pabrik itu sudah berkarat dan penuh lumut. Tanah di sekitarnya ditumbuhi ilalang liar.
Namun, saat melihat area luas dan kosong di dalam, mata Lin Luo langsung berbinar.
Tempat yang sempurna!