Bab 2: Dia Datang, Dia Datang
Semua mata serentak tertuju pada Lin Qingqing.
Menghadapi tatapan-tatapan itu, Lin Qingqing sudah mempersiapkan diri; sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman samar.
Menjadi satu-satunya yang dipuja oleh kaisar, tentu saja akan menimbulkan kecemburuan dari sebagian orang.
Dengan suara lembut, Lin Qingqing berkata, “Permaisuri, semalam Baginda menginap, dan hamba melayani beliau semalaman hingga kelelahan. Hari ini hamba terlambat memberi salam, mohon permaisuri memaafkan.”
Wah, melayani Baginda semalaman! Bagaimana cara melayaninya? Menghidangkan teh dan air? Tidak, tidak, pasti bukan itu. Ada yang tidak beres di sini. Meskipun Lin Qingqing bukan wanita paling cantik di dunia, wajahnya cukup menarik. Baginda datang menemuinya setiap hari, tapi sanggup menahan diri tanpa melakukan apa-apa? Baiklah, aku mengerti sekarang!
Lin Qingqing masih setengah berlutut di sana, namun tak seorang pun mempedulikannya.
Semua orang memasang telinga.
Permaisuri bilang dia mengerti? Mengerti apa!
Sang Baginda pasti menyimpan rahasia yang tak bisa diucapkan! Entah terlalu singkat, atau bahkan tak berfungsi sama sekali! Kemungkinan besar, Baginda sama sekali tak berfungsi! Jiang Zhimiao pun mengambil kesimpulan.
Wajah para selir seketika berubah!
Astaga! Topik ini terlalu panas.
Tapi... jika dipikir-pikir, masuk akal juga.
Baginda setiap hari hanya memanjakan Lin Qingqing, tapi gadis itu tetap perawan, dan Baginda pun enggan mendekati selir lain.
Jika bukan karena masalah keturunan, mana mungkin hal ini terjadi!
“Baginda datang!”
Suara lantang tiba-tiba terdengar dari luar.
Semua orang sibuk bergosip, sampai lupa Lin Qingqing masih setengah berlutut memberi salam.
Begitu mendengar suara itu, mata Lin Qingqing sedikit bergerak, lalu tiba-tiba mengaduh lirih dan jatuh lemas ke lantai, tampak sangat rapuh.
Yue Lin masuk tepat pada saat itu.
Jiang Zhimiao sama sekali tidak peduli pada Lin Qingqing saat ini.
Ia segera menatap ke arah Yue Lin, hatinya dipenuhi kegembiraan.
Akhirnya datang juga! Laki-laki yang tak berdaya itu, kini berjalan ke arah kami!
Semua orang pun serempak menoleh ke arah pintu.
Kata-kata permaisuri memang terdengar menusuk, tapi ada benarnya!
Baginda sudah sebulan tak mengunjungi istana dalam, mungkin memang hendak menutupi kenyataan pahit ini!
Sekejap saja, banyak selir yang menampakkan wajah putus asa.
Hancur sudah kebahagiaan seumur hidup mereka!
Langkah Yue Lin terhenti, wajahnya seketika menjadi dingin.
Barusan, apakah dia berhalusinasi? Seperti ada suara yang menuduhnya tak berdaya!
“Baginda,” Lin Qingqing yang jatuh ke lantai itu mengadu dengan suara penuh kepedihan, “Jangan salahkan permaisuri. Hamba yang terlambat memberi salam. Kalau permaisuri menegur, itu memang sudah sewajarnya.”
Eh? Kenapa Lin Qingqing jatuh ke lantai? Dasar gadis licik, sepertinya mulai memainkan trik! Hm, Cui Guo, cabik saja mulutnya!
Suara itu kembali terdengar.
Wajah Yue Lin makin dingin.
Cui Guo? Siapa itu Cui Guo?
Setelah lama menderita sakit kepala, jangan-jangan ia benar-benar sudah gila sampai berhalusinasi?
“Baginda.” Jiang Zhimiao memimpin para selir memberi hormat pada Yue Lin.
Mata Yue Lin segera menatap Jiang Zhimiao tajam. Suara yang ia dengar tadi persis sama dengan suara Jiang Zhimiao!
Apakah Jiang Zhimiao yang berbicara? Atau ia memang benar-benar sudah gila?
Dengan wajah tanpa ekspresi, Yue Lin berkata, “Semua duduk.”
Jiang Zhimiao langsung duduk lemas di kursinya.
Melihat tingkahnya, Yue Lin hampir saja tertawa karena kesal.
“Permaisuri,” Yue Lin menatap Jiang Zhimiao dengan senyum tipis, “Sebulan aku sibuk mengurus negara, kau mengelola istana dengan sangat baik.”
Sarkastik sekali! Ini pasti mau membela gadis licik itu! Ya, Lin Qingqing selalu bersama Baginda, tapi tetap perawan. Masalah Baginda yang tak berdaya, Lin Qingqing pasti paling tahu. Tapi Baginda tetap membutuhkannya sebagai tameng untuk menutupi ketidakmampuannya mendatangi istana dalam. Sudah jelas dia akan melindunginya.
Ekspresi Yue Lin berubah drastis!
Lagi-lagi! Ia kembali mendengar suara Jiang Zhimiao di kepalanya.
Ia menatap lekat-lekat bibir Jiang Zhimiao. Kali ini ia sangat yakin, perempuan itu sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun!
Kalaupun ia sudah gila sampai berhalusinasi, kenapa suara yang ia dengar selalu suara Jiang Zhimiao?
Dengan suara dingin, Yue Lin berkata, “Permaisuri, ada yang ingin kau sampaikan?”
Jiang Zhimiao menunduk, enggan berdiri.
Apa yang bisa aku sampaikan? Kau hanya ingin mencari-cari kesalahan! Aku bekerja keras setiap hari, hidup susah, masih harus mendengar omong kosongmu di sini...
Jiang Zhimiao mengomel dalam hati.
Namun yang keluar dari bibirnya hanya satu kalimat,
“Hamba tidak bisa membela diri.”
Sudut bibir Yue Lin berkedut.
Tidak bisa membela diri? Dalam hati membela diri ribuan kali!
Kepalanya masih dipenuhi suara omelan Jiang Zhimiao, membuatnya pusing bukan main.
“Baginda, mohon jangan salahkan permaisuri. Hamba sungguh tidak apa-apa.” Lin Qingqing tiba-tiba bicara, lalu batuk beberapa kali dengan hebat.
Yue Lin menunduk memandang Lin Qingqing, suaranya tenang, “Kesehatanmu kurang baik, mulai sekarang tak perlu lagi datang memberi salam. Lebih baik cepat kembali dan istirahat. Pengawal, bantu Lin Qingqing kembali ke istananya.”
Wajah Lin Qingqing langsung bersemu merah. Ia disangga pelayan istana, sempat melirik Jiang Zhimiao dengan tatapan penuh kemenangan, lalu pergi dengan lemah gemulai.
Jiang Zhimiao hanya bisa memutar bola matanya.
Dasar Lin Qingqing, bangga sekali. Seorang kaisar tak berdaya, siapa pula di istana dalam ini yang mau bersaing? Kasihan sekali semua selir cantik ini.
Para selir pun mengangguk penuh duka.
Tak berdaya! Lagi-lagi tak berdaya!
Wajah Yue Lin pun makin suram.
Entah ini halusinasi atau bukan, ia tak tahan lagi!
“Permaisuri!” Yue Lin berkata dengan suara dingin, “Kau pemimpin istana! Perhatikan kata-katamu.”
Di kening Jiang Zhimiao perlahan muncul tanda tanya.
Apakah karena terlalu lama tak berdaya, Baginda sampai sekacau ini? Dari tadi aku cuma bilang tak bisa membela diri, apa salahnya kata-kataku? Sudahlah, tak perlu dipedulikan, toh hidupnya juga pahit...
Sambil menghela napas dalam hati, Jiang Zhimiao memberi hormat, “Hamba akan menurut.”
Melihat sikap Jiang Zhimiao yang tampak patuh, mata Yue Lin tiba-tiba memancarkan senyum dingin, “Bagus kalau begitu. Malam nanti, aku akan mengadakan jamuan di Istana Fengyi. Jangan sampai kau berbuat kurang sopan lagi.”
Ia pun tak tahu, mengapa bisa mendengar suara-suara seperti itu!
Tapi suara itu jelas suara Jiang Zhimiao, pasti ada kaitannya dengannya.
Malam ini, saatnya menggali siapa sebenarnya perempuan ini.
Setelah berkata demikian,
Yue Lin pun berbalik dan pergi.
Jiang Zhimiao langsung kembali ke gaya malasnya, sambil berkata lesu kepada para selir, “Waktu sudah tidak pagi lagi, kalian silakan pergi.”
Para selir memberi salam, lalu membubarkan diri satu per satu.
Ekspresi mereka semua tampak rumit.
Sebulan berlalu, dari reaksi satu sama lain, mereka semua sadar para selir di istana dalam ini sepertinya bisa mendengar suara hati permaisuri.
Tidak, tidak semua.
Ada satu pengecualian.
Melihat reaksi Lin Qingqing, tampaknya ia sama sekali tak mendengar apa-apa.
Mengapa Lin Qingqing bisa berbeda, mereka pun tak tahu.
Gosip hari ini memang menghebohkan, namun yang paling mengejutkan tetap yang terakhir.
Baginda sekarang!
Ternyata tak berdaya!
Kalau tidak tahu soal ini, mungkin malam nanti ketika Baginda ke istana permaisuri, mereka akan merasa iri. Tapi sekarang...
Yang ada hanya perasaan pilu.
Jika Baginda tak berdaya, apa lagi yang harus mereka perebutkan? Masa depan macam apa yang masih mereka harapkan?
“Saudari, kita...” Chen Shuyi menatap An Zhaoyi dengan penuh harap.
An Zhaoyi hanya mendengus, lalu langsung pergi.
Chen Shuyi pun hanya bisa menghela napas.
Hubungannya dengan An Zhaoyi, sepertinya sulit untuk kembali seperti dulu.