Bab 31: Reuni Saudari
Mendengar suara yang familier itu, Ji Yumo begitu terharu hingga nyaris meneteskan air mata.
"Ini aku! Xiaolu, kau tidak apa-apa?"
"Benarkah ini Kakak?"
Song Chen mendengar langkah kaki tergesa-gesa dari dalam ruangan. Sesaat kemudian, pintu terbuka dan sesosok tubuh menerjang ke dalam pelukan Ji Yumo.
"Kakak! Benar-benar Kakak yang kembali!"
Ji Lu membenamkan wajahnya di dada Ji Yumo sambil menggesek-gesekkannya. Air mata mengalir deras, layaknya anak burung yang akhirnya menemukan tempat berlindung.
"Maaf mengganggu momen reuni kalian," ujar Song Chen mengingatkan. "Lorong ini tidak aman. Bagaimana kalau kita masuk dan mengobrol di dalam?"
Mendengar itu, Ji Lu menatap Song Chen dengan penasaran sekaligus waspada. Jelas ia bingung mengapa kakaknya membawa dua pria asing kembali ke rumah.
Ji Yumo tidak sempat memberikan penjelasan lebih lanjut, ia segera menarik Ji Lu dan mengajak Song Chen serta yang lainnya masuk ke dalam rumah. Setelah pintu tertutup rapat kembali, barulah Ji Yumo memperkenalkan mereka.
"Ini Song Chen, di sebelahnya adalah temannya, Cheng Siyuan, dan anjing peliharaan mereka, Lanya."
Cheng Siyuan mengangguk sopan ke arah Ji Lu, dan Lanya pun menggoyangkan ekornya.
"Song Chen?"
Mendengar nama itu, Ji Lu seolah teringat sesuatu. Ah, bukankah ini orang lugu yang sering diceritakan kakaknya beberapa hari lalu?
Melihat ekspresi Ji Lu yang tiba-tiba sadar, serta tatapan menyelidik dan penasaran yang ia tujukan pada Song Chen, Ji Yumo terbatuk kecil karena canggung. Bagaimanapun, klien yang bersedia menghabiskan puluhan juta untuk renovasi vila seperti Song Chen sangat jarang ditemui. Dulu ia asal menyebut Song Chen sebagai orang lugu, siapa sangka ia akan bertemu lagi dengannya di tengah kiamat, bahkan berulang kali diselamatkan oleh orang yang ia sebut sebagai orang lugu itu sendiri!
Untungnya Song Chen tidak tahu ia memanggilnya demikian, jika tidak, ia benar-benar ingin menghilang ditelan bumi.
Ji Yumo segera menarik Ji Lu dan memeriksa tubuh adiknya dari atas ke bawah. "Xiaolu, apakah terjadi sesuatu yang buruk padamu di rumah selama beberapa hari ini?"
Ji Lu tampak ragu untuk bicara, namun akhirnya ia menunjukkan senyum cerah. "Aku bersembunyi dengan baik di rumah, tentu saja tidak terjadi apa-apa!"
Saat kiamat pecah, kebetulan sekolah sedang libur. Ji Lu baru saja membeli banyak camilan untuk menemui kakaknya. Berkat camilan itulah ia bisa bertahan hidup dengan aman selama tiga hari di rumah.
"Justru Kakak, pasti sulit sekali terjebak di luar sana selama beberapa hari ini."
Ji Lu memeluk Ji Yumo dengan perasaan iba. Hubungan mereka sebagai saudara sangat erat. Sejak orang tua mereka meninggal, Ji Yumo berperan layaknya seorang ibu yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Setelah kekacauan terjadi, Ji Yumo tidak langsung pulang, dan Ji Lu sadar kakaknya pasti mengalami sesuatu di luar sana sehingga tidak bisa kembali tepat waktu. Ia tidak ingin membayangkan kemungkinan kakaknya berubah menjadi zombi, jadi ia terus menunggu di rumah, berharap kakaknya kembali dengan selamat.
Untungnya, penantiannya tidak sia-sia.
Ji Yumo membalas pelukan Ji Lu dengan suara yang tercekat. Ia tidak berani membayangkan bagaimana adiknya akan bertahan hidup sendirian jika Song Chen tidak muncul dan menyelamatkannya.
Song Chen tidak mengganggu momen haru kedua saudari itu. Ia mulai mengamati seisi rumah. Penataan yang hangat dan rapi tidak berbeda dengan rumah gadis pada umumnya, namun ia secara tajam menyadari keberadaan sebuah pisau dapur yang diletakkan di atas lemari pintu.
"Apakah ada orang lain yang datang ke sini beberapa hari ini?" tanya Song Chen sambil menatap lekat ke arah Ji Lu. Meski berupa pertanyaan, nadanya terdengar sangat yakin.
Ji Lu tampak terkejut dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Saat Ji Yumo mengetuk pintu tadi, reaksimu tidak biasa. Kau terlihat gembira dan cemas, namun saat membuka pintu, kau sangat berhati-hati. Lagipula..." Song Chen mengambil pisau dapur itu, "Siapa yang menaruh pisau dapur di lemari dekat pintu? Apa yang sedang kau waspadai?"
Saat mereka naik, mereka tidak menemukan zombi di sekitar tangga, hanya bangkai zombi yang hancur di rumah tetangga. Namun, melihat penampilan Ji Lu yang polos dan lugu, ia tidak tampak seperti orang yang kejam. Kecuali... ada orang lain yang pernah datang ke sini.
Setelah mendengar ucapan Song Chen, Ji Yumo pun segera sadar. Adiknya memang berperilaku aneh. Sebelumnya ia terlalu gembira karena reuni hingga tidak menyadarinya, namun kini ia merasa aneh melihat Ji Lu mengenakan pakaian lengkap dengan jaket tebal.
Padahal suhu udara saat ini sangat panas, semua orang ingin mengenakan pakaian sesedikit mungkin, mengapa Ji Lu berpakaian begitu rapat?
Menghadapi tatapan menyelidik kakaknya, Ji Lu tahu ia tidak bisa lagi menyembunyikan kebenaran. Ia pun menceritakan apa yang terjadi beberapa hari terakhir.
Pada hari kiamat pecah, teriakan terdengar dari berbagai penjuru kompleks. Awalnya ia tidak peduli dan malah mengintip dari jendela, namun saat ia menoleh, ia berpapasan dengan wajah yang mengerikan; seorang penghuni lantai atas terjatuh tepat di depan matanya.
Ia ketakutan dan mencoba menelepon bantuan, namun tidak ada sinyal. Saat ia melihat ke bawah lagi, penghuni yang jatuh tadi tiba-tiba berdiri dengan terhuyung-huyung! Padahal mereka tinggal di lantai sepuluh, bagaimana mungkin seseorang yang jatuh dari ketinggian masih bisa hidup?
Satu demi satu, orang-orang aneh keluar dari gedung dan menerkam penghuni lainnya. Jeritan bersahut-sahutan. Sebelum ia pulih dari keterkejutan, pintu rumahnya digedor dengan keras. Seseorang di luar meminta tolong.
Ji Lu hendak membuka pintu untuk membantu, namun saat mengintip dari lubang pintu, ia melihat orang itu sedang diterkam dan disantap oleh orang lain. Ia seketika teringat pada zombi dalam film.
Telepon tidak bisa digunakan, ia tidak bisa menghubungi siapa pun, dan ia tidak berani membukakan pintu untuk orang lain. Ia hanya bisa meringkuk di dalam kamar tanpa mengeluarkan suara, berdoa agar Ji Yumo kembali dengan selamat.
Hingga keesokan paginya, pintu diketuk lagi. Kali ini pemilik rumah datang. Ji Lu tidak memiliki kesan baik terhadap pemilik rumah itu. Sejak pindah, ia merasa tatapan pria itu tidak sopan, sehingga ia selalu menjaga jarak.
Belajar dari kejadian sebelumnya, Ji Lu menjadi lebih cerdas. Ia tidak langsung membuka pintu, melainkan bertanya melalui lubang pintu apa maksud kedatangan pria itu. Tak disangka, pria itu justru tersenyum mesum dan berusaha membujuknya untuk membuka pintu.
Sebagai mahasiswi berprestasi di Universitas Beichen, Ji Lu tidak sebodoh itu. Ia menolak membuka pintu dan justru mengusir pria itu. Pria itu marah besar dan memaki-maki dari balik pintu. Makiannya memancing perhatian tetangga sebelah yang sudah berubah menjadi zombi, yang kemudian menerjang ke arah pria itu.
Tak disangka, pemilik rumah itu rupanya sudah bersiap. Ia mengeluarkan pisau dan menebas zombi itu hingga tewas. Ji Lu yang ketakutan bersembunyi di balik pintu tanpa berani bersuara. Ia sadar, jika tadi ia membuka pintu, nasibnya sudah bisa dipastikan.
Karena pria itu tidak bisa mendobrak pintu, ia akhirnya pergi sambil mengancam akan kembali lagi, menyuruh Ji Lu memilih antara kesucian atau nyawanya. Karena itulah Ji Lu terus mengenakan pakaian tebal meski cuaca sangat panas dan menyiapkan pisau di dekat pintu.
Mendengar cerita itu, Ji Yumo gemetar karena murka. Untung saja Ji Lu cukup sigap, jika tidak, ia tidak berani membayangkan apa yang akan ia temui saat kembali.
"Xiaolu, jangan takut. Kakak akan membawamu pergi sekarang!"
Ji Yumo menoleh ke arah Song Chen. "Tuan Song, saya tidak meminta banyak, saya hanya memohon Anda melindungi adik saya agar dia bisa bertahan hidup di dunia kiamat ini. Mulai sekarang, hidup saya adalah milik Anda!"