Bab Sembilan
???? Suzuki Akihito menatap setelan jas bayi itu dengan bingung, lalu kembali menusuk-nusuk kucing tiga warna dengan semangat, “Kamu yakin hadiah misterius ini benar-benar selalu memberikan sesuatu yang disukai penerimanya? Soalnya aku rasa Reborn juga belum sampai umur punya anak, kan!”
“Produk dari sistem pasti tidak pernah salah!” Kucing tiga warna itu buru-buru menegaskan, meski secara taktis ia menjilat bulu-bulunya dengan gugup. “Mungkin saja dia memang suka pakaian bayi?”
...Aneh sekali seleranya!
Tak mungkin begitu!
Sudah bersusah payah memberinya hadiah demi keuntungan pribadi, eh ternyata hadiahnya malah sesuatu yang luar biasa aneh. Suzuki Akihito pun merasa heran dan mulai meragukan keandalan sistem itu.
Namun sebelum ia memutuskan untuk tak pernah lagi membagikan hadiah misterius pada siapapun, ia melihat di layar, Reborn justru menatap pakaian bayi itu dengan penuh minat, lalu bergumam seolah sedang berpikir, “Untukku?”
“Hadiah yang menarik, terima kasih.”
“Aku menantikan pertemuan kita berikutnya.”
Sembari berkata demikian, ia menerima hadiah itu dengan wajar, menekan pinggiran topinya—seolah-olah sangat puas dengan hadiah itu?
Suzuki Akihito hanya bisa memandang kosong ke layar, menyaksikan Reborn menghilang kembali ke dalam kumpulan karakter.
Tak disangka, pria yang terlihat elegan ini ternyata punya kegemaran aneh.
“…Aku masih bisa bertemu dengannya lagi, kan?” Suzuki Akihito menarik napas dan bertanya pada kucing tiga warna itu.
“Tentu saja. Meski dia tak muncul sendiri, semua karakter di kumpulan kartu bisa dipanggil lagi, semuanya mengikuti takdir!” jawab si kucing.
“Baguslah,” Suzuki Akihito mengangguk. “Nanti kalau ada kesempatan, aku mau tanya, pernah dipakai nggak tuh baju bayi… gimana cara pakainya, sungguh penasaran.”
Tepat saat itu, muncul peringatan sistem berwarna merah pada layar:
“Tahanan Anda telah memberikan informasi. Semua lokasi nilai kebencian sudah ditandai!”
Itu artinya para tawanan yang ia tangkap telah membocorkan dalang di balik mereka. Suzuki Akihito langsung bersemangat—ini kesempatan emas untuk meraup keuntungan lagi!
Ha, tumpukan koin emas sudah menunggunya!
“Selama orang lain tidak menggangguku, aku pun tak akan mengganggu mereka. Tapi kalau mereka berani menantangku… biarpun jauh pasti kubalas! Ayo, semuanya, serang!”
Dengan seruan penuh semangat, Suzuki Akihito mengangkat tangan dan kembali mengorganisasi para karyawannya yang kini menjelma jadi para pembalas dendam, mencabut musuh sampai ke akar-akarnya!
Pertarungan kali ini pun berjalan lancar. Para pekerjanya kembali membawa setumpuk koin dan permata, memperkaya perusahaan. Namun, banyak di antara mereka juga yang luka-luka.
Tentu Suzuki Akihito tak akan pelit pada karyawan yang telah berjuang untuk perusahaan. Ia langsung membagikan bonus, memerintahkan tim medis memberi perawatan penuh, dan jika ada yang luka parah, ia menukar poin prestasi dengan ramuan penyembuh untuk menyelamatkan mereka.
Tak hanya itu, ia bermurah hati memberikan libur tiga hari agar semua bisa beristirahat.
Bagi Suzuki Akihito yang biasanya tak pernah memberi hari libur pada pegawainya, ini sudah kompromi terbesar yang bisa ia lakukan karena sedang senang!
Tiga hari istirahat, setelah itu lanjut merampas… eh, membalas dendam!
“Akihito!”
Saat Suzuki Akihito sedang asyik bermain, ibunya, Suzuki Tomoko, masuk sambil mengernyit, langsung melihat putranya berbaring di kasur sembari bermain ponsel tanpa henti. Ia pun agak kesal, “Sudah kamu kemas barang-barangmu?”
“Sudah, kok.” Suzuki Akihito cepat-cepat duduk dan menunjuk koper di kakinya.
Suzuki Tomoko membukanya dan mendapati hanya ada beberapa potong pakaian. Wajahnya langsung merah padam, “Alat tulismu, perlengkapan pribadimu mana?”
“Nanti beli saja di sana,” jawab Suzuki Akihito santai. “Ngapain bawa banyak-banyak?”
Suzuki Tomoko menghela napas panjang menahan kesal. “Memang deh, anak laki-laki itu ceroboh… Sudahlah, biar pelayan yang siapkan sisanya. Kau sekarang cukup siap-siap, besok pagi naik pesawat ke Hawaii.”
“Dan satu lagi,” sambil melirik ponsel Akihito, wajah Suzuki Tomoko berubah tegas, “Tidak boleh bawa ponsel. Mama sudah siapkan ponsel khusus Amerika. Selama empat bulan sekolah di sana, kau harus fokus belajar. Ponselmu tinggal di rumah! Jangan tiap hari main game!”
Suzuki Akihito membelalakkan mata, tak menyangka ponselnya akan dibatasi, “Lalu bagaimana dengan perusahaan milikku selama empat bulan itu?!”
“Perusahaan apa?” Suzuki Tomoko tertegun, nadanya jadi lembut, “Kalau kau ingin belajar bisnis, nanti sepulang sekolah Mama serahkan beberapa perusahaan untukmu.”
“Perusahaan di dunia nyata tak semenarik di game,” cibir Suzuki Akihito, memperlihatkan kebosanannya sebagai anak konglomerat yang manja. “Kalau begitu, jual saja perusahaannya, dan uangnya buat top up game-ku!”
…
Balasan yang ia terima adalah cubitan keras di telinga dari ibunya yang sudah sangat marah.
“Akihito! Mau dicubit lagi ya?!”
“Tunggu, sabar, Ma! Jangan main tangan!”
Sementara itu, dari kamar sebelah, terdengar suara rintihan minta ampun. Suzuki Sonoko yang sedang menelpon hanya memutar bola matanya, lalu melanjutkan obrolan dengan sahabatnya, Ran, “Nggak apa-apa, itu kakakku lagi dimarahi. Aku sudah biasa. Minggu ini ada pameran seni, kamu mau ikut nggak…”
*
Suzuki Akihito terbaring di tempat tidur sambil mengeluh, menahan sakit telinga. Dihajar ibu sendiri memang nasib hampir semua anak laki-laki!
Sayang sekali, ponselnya kali ini benar-benar gagal lolos dari penyitaan. Terpaksa harus disimpan di rumah.
Sebenarnya Suzuki Akihito tak terlalu peduli selain satu hal: game yang sedang ia mainkan membuatnya resah. Untung saja ini tipe game idle, jadi walau offline, perusahaan tetap berjalan otomatis. Ia hanya perlu mengatur arahan secara global.
“Ekonomi perusahaan lagi makmur, kekuatan juga aman, seharusnya tidak ada masalah…” gumam Suzuki Akihito, lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Tapi, kalau seluruh orang keluar bertarung, bagaimana jika ada yang menyerang markas besar perusahaanku?”
Semakin dipikir, ia merasa para NPC dalam game ini cukup licik. Jumlah pegawai perusahaan masih sedikit, bahkan penjaga pun belum ada.
Selain itu, lebih baik perkuat bangunan dalam perusahaan, bangun jadi semacam benteng kokoh agar musuh sulit menembus.
Memanfaatkan waktu tersisa sebelum benar-benar offline, Suzuki Akihito langsung duduk dan mulai merenovasi.
Sang ahli renovasi kembali beraksi! Pertama, pintu masuk perusahaan dipasangi sistem scan kartu super canggih. Lift dan ruangan penting wajib pakai ID, bahkan ada kunci sidik jari!
Kaca diganti kaca anti-peluru, dinding diperkuat baja paling mutakhir!
Setiap sudut dipasangi kamera, ada yang bertugas mengawasi 24 jam. Begitu mendeteksi orang tak dikenal, alarm otomatis berbunyi. Jika tak ada yang menonaktifkan alarm secepatnya, drone mini langsung keluar menembaki penyusup.
Akhirnya, di lift dan titik vital ada petugas keamanan yang patroli acak. Di ruang uang dan penjara bawah tanah dipasang perangkap kecil. Jika ada yang berani menerobos, langsung dihujani peluru!
Setelah semua selesai, Suzuki Akihito memasang senyum jahat. Sekarang, ia ingin lihat siapa yang masih berani menyerang perusahaan dan merampas hartanya!
Bagi siapapun yang nekat—walau hanya NPC—ia tak sudi repot-repot. Sikat saja sampai habis.
Namun ia masih agak was-was, Suzuki Akihito lalu menanyai kucing tiga warna, “Kalau aku offline lama, game ini tetap berjalan, kan?”
“Tentu, ini game idle. Tapi sebaiknya, Bos memberi arahan atau kebijakan sebelum offline, kalau tidak perusahaan akan berjalan semaunya,” jawab kucing tiga warna, tampak senang karena tak akan diganggu lagi.
“Strategi yang sekarang sudah cukup baik,” Suzuki Akihito cukup puas. “Urusan pertempuran aman, modal cukup buat bisnis perikanan… Cuma kurang orang saja, harus rutin rekrut, dan… perlu aturan ketat.”
Jangan sampai seperti dulu, pegawai dengan loyalitas rendah kompak memberontak dan membawa kabur hartanya!
Ia tak mau mengulangi kesalahan lalu.
Soal bos pengganti, walau tak ada harimau, jangan sampai monyet jadi raja. Harus ada lima pejabat yang membatasi kekuasaan bos sementara.
Setelah cepat berpikir, Suzuki Akihito sudah punya rencana.
Demi memberi sedikit efek kejut serta pengendalian, ia memerintahkan semua pegawai berkumpul di aula.
Berbarislah para karakter kecil itu, menatapnya dengan penuh semangat. Suzuki Akihito pun merasa bangga dan punya tanggung jawab sebagai pemimpin.
Ia menghabiskan beberapa koin untuk memutar musik dramatis sebagai latar, lalu dengan pena bulu dicelup tinta merah, ia menulis di dinding di hadapan semua karyawan:
“Aku akan menetapkan tiga aturan mutlak. Siapapun dilarang melanggar!”
“Pertama, wajib patuh pada perintahku.”
“Kedua, dilarang mengkhianati perusahaan.”
“Ketiga, setiap serangan yang diterima harus dibalas dua kali lipat.”
“Demikian.”
Tiga aturan baru pun resmi berlaku.
Tak seorang pun di perusahaan perikanan ini boleh melanggar!
*
“Anak Muda, pesawat sudah siap.”
Suzuki Akihito menaruh ponsel, menatap kepala pelayan yang menunggunya dengan sopan, lalu mengenakan kacamata hitam sambil mengangguk ringan.
Ia menatap meja tempat ponselnya tersimpan rapi, juga keluarga Suzuki yang mengantar dengan wajah penuh haru. Ia tersenyum kecil, menjentik dahi Sonoko yang cemberut, lalu melangkah santai ke pesawat pribadinya.
“Kalau begitu, sampai jumpa empat bulan lagi!”