Bab 42: Diberi Wajah, Tak Tahu Diri
Xiao Fan benar-benar mengundang semua orang yang hadir untuk makan bersama, tapi semuanya sangat peka situasi dan berpura-pura ada urusan di rumah, sehingga pada akhirnya hanya Xiao Fan dan Ye Qianqian yang tersisa.
"Xiao Fan, bagaimana kalau kita makan sate saja?" Ye Qianqian berkata dengan gembira.
Dulu, saat masih kuliah, ia dan Xiao Fan sering keluar malam-malam untuk makan sate. Waktu itu segalanya terasa bebas dan tanpa beban.
"Baik, terserah kamu," jawab Xiao Fan sambil tersenyum.
Keduanya berjalan melewati pusat kuliner menuju Jalan Emas, sebuah gang kecil yang dipenuhi berbagai jajanan seperti sate dan makanan pedas.
Baru saja sampai di depan sebuah gerobak sate, Xiao Fan mendengar suara ribut dan makian.
Ia menoleh dan melihat di seberang jalan, di sebuah gerobak mi dingin, ada lima atau enam pemuda berambut aneh yang tampak garang dan sedang memaki pemilik gerobak itu.
Tampak jelas, pemilik gerobak mi dingin sempat beradu argumen dengan mereka, namun akhirnya pemuda berambut kuning yang memimpin mereka menendang si pemilik sampai terjatuh, lalu menamparnya berkali-kali.
Gerobak mi dingin itu juga dibalik hingga berantakan dan diinjak-injak sampai hancur.
Akhirnya, putri si pemilik gerobak harus mengeluarkan setumpuk uang dari tas agar keributan itu berhenti.
Pemuda berambut kuning itu, setelah menerima uang, malah semakin menjadi-jadi. Ia menyelonongkan tangannya ke dalam pakaian putri si pemilik gerobak mi dingin dan meraba tanpa malu.
Sementara orang-orang di sekitar hanya menonton tanpa berbuat apa-apa!
Benar-benar keterlaluan!
Ye Qianqian mengerutkan kening dan bertanya, "Xiao Fan, siapa mereka itu? Kenapa sampai memukul orang begitu?"
Tatapan mata Xiao Fan pun berubah menjadi tajam.
Pemuda berambut kuning itu, dari kejauhan melihat sorot mata Xiao Fan yang galak, merasa wibawanya ditantang, lalu membawa teman-temannya mendekat.
Ia menatap tajam ke arah Xiao Fan, "Hei, kamu, lihat-lihat apa? Mau matamu kupecahin?"
Xiao Fan menahan amarah, menatapnya datar lalu menggandeng Ye Qianqian bermaksud pergi dari sana.
"Tunggu! Siapa suruh kamu pergi?" Pemuda berambut kuning itu tidak membiarkan mereka pergi.
Baginya, Xiao Fan sudah terlihat ciut, malah itu yang ia suka, mencari korban yang mudah dikerjai.
Lalu, seorang pemuda berambut hijau mengeluarkan selembar kode QR hasil print dan mengacungkannya di depan Xiao Fan dengan gaya menantang.
"Mau pergi boleh, bayar uang keamanan dua juta."
Sekelompok pemuda itu langsung mengelilingi Xiao Fan.
"Ayo, cepat bayar! Bayar, baru boleh pergi."
Xiao Fan sudah menduga mereka ini pemalak jalanan. Dulu di kawasan kumuh, ibunya, Zhang Huiwen, juga sering diperas begini.
Xiao Fan menyipitkan matanya, "Minggir!"
"Wah, sombong juga kamu!" hardik mereka.
"Mau cari mati?" Amarah Xiao Fan sudah di ubun-ubun, ia memang sangat membenci orang seperti ini.
"Sombong juga kamu di wilayah Bang Jang! Kamu tahu nggak aku orangnya Bang Jang?" Pemuda berambut kuning itu berteriak tinggi.
Ye Qianqian menggenggam lengan Xiao Fan, ragu-ragu ingin bicara tapi urung.
Wajah Xiao Fan jadi dingin, "Sudah dikasih muka malah nggak tahu diri!"
Pemuda berambut kuning tertawa terbahak-bahak, "Kamu siapa? Berani-beraninya sok di hadapan gue!"
Ia lalu menatap Ye Qianqian dengan pandangan cabul, "Kalau nggak punya uang, tinggalin aja pacarmu buat ngelayanin kami, siapa tahu besok kami—"
"Bug!"
Belum selesai bicara, Xiao Fan sudah melayang menendangnya hingga terpelanting.
"Sialan, berani memukulku? Hajar dia!" Pemuda berambut kuning itu bangkit dengan garang.
Tak disangka, baru saja berdiri, ia sudah disambut tendangan keras kedua dari Xiao Fan.
"Plak! Plak!"
Dua tamparan keras mendarat di pipinya.
Anak buahnya belum sempat bergerak, sudah ditendang Xiao Fan sampai lima meter jauhnya.
"Tunggu saja kamu! Kalau berani, jangan kabur!" Pemuda berambut kuning itu sadar Xiao Fan bukan lawan sembarangan, melarikan diri sambil mengancam.
Kejadian itu membuat penonton yang ada di tempat itu sangat terkejut.
Terutama beberapa pedagang yang sering dipalak, tak ada yang menyangka preman-preman yang selama ini menakutkan itu bisa dipukul mundur seorang diri oleh Xiao Fan.
Ye Qianqian pun perasaannya bercampur aduk, mendengar disebut sebagai pacar, hatinya bergetar. Perlindungan Xiao Fan membuatnya limbung, dan tatapannya pada Xiao Fan kini penuh hasrat.
Saat itu juga, pemilik gerobak mi dingin menghampiri Xiao Fan dengan cemas, "Nak, kalian sebaiknya cepat pergi! Mereka itu preman, pasti akan kembali bawa teman. Nanti kalian tak akan bisa lolos."
Xiao Fan sangat iba pada nasib mereka. Melihat putri pemilik gerobak itu menangis ketakutan di bawah meja, ia mengeluarkan uang seribu ribu, "Ini buat ganti kerugian."
"Saya tidak butuh uangmu. Nak, sebaiknya kalian cepat pergi, kalau tidak nanti bisa celaka," pemilik gerobak itu menolak.
Ayah dan anak itu sudah bertahun-tahun menggelar dagangan di Jalan Emas, setiap tahun harus membayar uang keamanan pada gerombolan itu. Mereka tidak dapat banyak, tapi uang yang mereka dapat halal.
Walau ia tahu Xiao Fan berani, menurutnya itu hanya keberanian sesaat. Begitu para preman datang lagi, Xiao Fan pun tak akan bisa lolos.
"Tidak apa-apa, tenang saja. Oh ya, kami memang mau makan mi dingin, masih ada kan? Kami beli ya."
"Ah, ini sudah hancur semua..." Pemilik gerobak itu tampak bingung.
Ia pun hanya bisa menghela napas.
Xiao Fan tidak banyak bicara, ia letakkan seratus ribu lalu mengambil dua porsi mi dingin, kemudian ia dan Ye Qianqian duduk di sebuah warung sate di dekat situ.
"Xiao Fan, kamu mau makan apa? Biar aku yang pesan," Ye Qianqian menawarkan diri.
"Sama saja seperti dulu," jawab Xiao Fan santai.
Ia tentu masih ingat dulu sering bersama Ye Qianqian diam-diam keluar makan sate, tapi di hatinya, Ye Qianqian hanya dianggap teman.
Tiba-tiba terdengar suara ribut, tidak lama kemudian pemuda berambut kuning datang lagi dengan belasan orang.
"Mana orangnya?"
Di samping pemuda berambut kuning itu berdiri seorang pemuda lebih tinggi, juga berambut kuning, sedang merokok dan berteriak.
"Bos, itu dia," salah satu anak buahnya yang tajam mata langsung menunjuk Xiao Fan dan Ye Qianqian yang sedang makan di warung sate.
"Hei, cepat berlutut dan panggil aku kakek!" Pemuda berambut kuning itu melangkah mendekat dengan sikap sangat sombong.
Xiao Fan menoleh santai, tapi saat melihat ekspresi pemuda berambut kuning tinggi di sampingnya, ia malah tersenyum.
Pemuda itu ternyata adalah Ayam Hitam, anak buah Zhang Qiang, orang yang pernah menghalangi Xiao Fan saat menagih utang di Klub Mawar Nirwana.
Bang Fan?
Ayam Hitam sampai melongo, tak percaya!
Orang yang bahkan Zhang Qiang segani, mana mungkin ia berani melawan?
"Hei, ngapain bengong? Cepat berlutut, setor lima juta, lalu serahkan pacarmu buat kami!" Pemuda berambut kuning masih saja berkoar.
"Plak!"
Ayam Hitam menamparnya keras, "Diam kamu! Gimana caramu bicara sama Bang Fan?"
"Cepat berlutut dan panggil Bang Fan!"
Pemuda berambut kuning itu tergeletak, bingung dan meringis, "Bang Ayam, kenapa kamu mukul aku? Bukannya harus pukul dia?"
"Bug!"
Baru saja selesai bicara, Ayam Hitam menendangnya keras.
"Plak! Plak! Plak!"
Serangkaian tamparan mendarat di pipinya.
"Sialan kamu!"