Bab 025: Pertemuan Tak Terduga
Menikmati hidangan daging kambing iris dalam panci tembaga dengan cocolan saus wijen membuat Xu Wei merasa sangat puas. Ia pun sudah lama melupakan ucapan Lin Zhen.
Semakin sering berinteraksi dengan Sun Yingying, Xu Wei merasa gadis itu sebenarnya cukup menarik. Bukan karena apa, melainkan karena Yingying tahu terlalu banyak gosip. Hanya dalam waktu makan malam ini saja, Xu Wei sudah mendengar setidaknya sepuluh berita sensasional darinya.
Sun Yingying menggandeng lengan Xu Wei saat berjalan keluar sambil terus mengoceh, "Masih ingat pria bernama Zhou Yun yang baru saja kuceritakan?"
Mengingat sepanjang malam itu Yingying telah menyebutkan puluhan nama dengan hubungan yang rumit, Xu Wei terdiam sejenak sebelum mengangguk ragu.
"Kau harus lebih waspada terhadap mantan pacarnya."
"Untuk apa aku waspada pada mantan pacarnya? Aku saja tidak mengenalnya."
Sun Yingying mendesah gemas, "Lihat dirimu, setidaknya kau sudah cukup lama berada di lingkaran ini, kenapa kepekaanmu nol besar?"
Xu Wei mengerucutkan bibir, "Buat apa aku menghafal nama orang yang tidak penting? Itu hanya membebani ingatanku saja."
Sun Yingying melirik ke sekeliling dengan hati-hati, lalu mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga Xu Wei.
"Kuberitahu ya, pacarnya itu, Li Qian dari keluarga Li yang berbisnis bahan bangunan. Kabar burungnya, kalau saja kau tidak selangkah lebih cepat, dia yang sudah duduk di posisi Nyonya Cheng."
Entah mengapa, saat mendengar kabar itu, jantung Xu Wei terasa jatuh. Ia merasa sesak, seolah hidung dan mulutnya tertutup oleh tangan tak terlihat.
Ia tertegun, suara Sun Yingying di telinganya seolah masih mendengung.
Orang di sampingnya tidak menyadari kondisi Xu Wei, ia justru sedang menatap pintu masuk sambil melambaikan tangan dengan antusias, "Kakak Ipar!"
Sun Yingying menarik lengan Xu Wei yang sedang melamun, "Lihat, siapa yang datang."
Tersentak oleh tarikan itu, Xu Wei mendongak dan melihat sosok jangkung dengan kemeja hitam, celana panjang bahan yang rapi, serta sepatu Oxford bergaya Inggris.
Ia tertegun sejenak menatap sosok Cheng Xianzhi.
Cheng Xianzhi yang baru saja masuk pun tampak terkejut melihat Xu Wei di sana.
Zhou Jiting menyenggol siku Xu Qirang, "Aneh sekali. Bukankah adik ipar sepupumu itu sebelumnya punya masalah dengan istri Xianzhi? Kenapa sekarang terlihat akrab?"
Ia menyimpulkan satu hal: hati wanita memang sedalam samudra.
Xu Qirang meliriknya sekilas, enggan menanggapi, lalu melangkah maju, "Makan malam di sini bersama teman?"
Istri Xu Qirang, Lin Niaoniao, adalah sepupu dekat Sun Yingying. Karena sering berkunjung ke rumah untuk menemui Lin Niaoniao, sikap Xu Qirang terhadap Sun Yingying secara alami menjadi lebih ramah.
Sun Yingying mengangguk, "Yu Yue, Kakak Ipar pasti tahu karena hubungannya dekat dengan Cheng Xianzhi."
Xu Qirang sedikit mengangguk. Saat itu pula, Cheng Xianzhi sudah berjalan mendekat.
Sun Yingying terus mengedipkan mata ke arah Xu Wei seolah berkata 'aku membantumu', lalu mendorong Xu Wei ke arah Cheng Xianzhi.
Xu Wei sama sekali tidak menyangka Sun Yingying akan melakukan itu. Tanpa persiapan, tubuhnya limbung tepat ke arah Cheng Xianzhi.
Ia sudah membayangkan dirinya akan jatuh ke lantai dan memejamkan mata dengan perasaan pasrah. Sialan, Sun Yingying.
Namun, rasa sakit yang diharapkan tidak datang. Xu Wei justru terjerat dalam dekapan lengan yang kokoh di pinggangnya.
Aroma yang familiar menyeruak, Xu Wei membuka mata dengan linglung dan menatap langsung ke dalam manik mata Cheng Xianzhi yang sedalam samudra.
Belum pernah ia memandangi wajah Cheng Xianzhi sedekat ini, wajahnya seketika merona merah.
Sesaat kemudian, Xu Wei sadar ada tiga orang lain di sana. Wajahnya makin memerah, ia pun segera melepaskan diri dari dekapan Cheng Xianzhi dan berbisik pelan mengucapkan terima kasih.
"Tidak apa-apa," jawab Cheng Xianzhi dengan sikap santun yang khas.
Xu Wei berdiri tegak dan melotot ke arah Sun Yingying, namun gadis itu justru membuang muka seolah tidak terjadi apa-apa.
"Eh, tadi katanya kurang orang buat main mahyong, sekarang kan sudah cukup," ujar Zhou Jiting dengan antusias sambil menatap Xu Wei.
Xu Wei: "......"
Sudah cukup? Apakah dia maksudnya dirinya dan Sun Yingying? Xu Wei menunjuk dirinya sendiri, lalu menoleh ke arah Cheng Xianzhi.
Cheng Xianzhi menunduk sedikit, bertanya, "Mau main?"
"......Aku tidak bisa," jawab Xu Wei pelan.
Dulu saat kecil ia memang gemar bermain, tapi tidak pernah menyentuh mahyong atau kartu. Setelah beranjak dewasa, ia hanya fokus belajar agar bisa masuk ke sekolah bagus dan menjauh dari keluarganya.
Sun Yingying justru mengangkat tangan dengan semangat dan mengedipkan mata pada Xu Wei, "Aku bisa, aku bisa! Ayo main, nanti kau duduk saja di sampingku dan lihat aku main."
Seketika, tiga pasang mata tertuju pada Sun Yingying.
Sun Yingying: "???"
"Ayo cepat, tanganku sudah gatal ingin main," desak Zhou Jiting, "Kali ini aku pasti akan mengalahkan Xianzhi sampai habis-habisan dan mengembalikan semua uang yang kalah kemarin."
Cheng Xianzhi tersenyum tipis, "Ayo."
Lalu, ia menarik pergelangan tangan Xu Wei untuk masuk ke dalam.
Sun Yingying berdiri terpaku, "Secepat itu?"
Xu Qirang berjalan dengan tangan di saku celana sambil menghela napas, "Pantas saja kakakmu bilang otakmu itu kadang encer, kadang buntu."
"Bukan begitu, Kak Ipar, tunggu aku—" Sun Yingying berlari kecil menyusul langkah Xu Qirang, "Apa maksudmu otakku buntu? Apa yang kulakukan?"
Xu Qirang terdiam sejenak, ia mengangkat dagu sedikit ke arah Cheng Xianzhi yang sedang menggandeng pergelangan tangan Xu Wei di depan, "Dia sudah punya suami, buat apa dia duduk di sampingmu."
Sun Yingying tertegun. Pantas saja tadi Cheng Xianzhi menatapnya dengan tatapan penuh arti!
Xianya Xuan jauh lebih besar daripada restoran tempat Xu Wei makan sebelumnya. Gaya interiornya tetap tradisional Tiongkok, namun dengan dekorasi yang jauh lebih elegan.
Di atas meja mahyong terdapat lampu gantung kaca besar yang dihiasi ukiran kisah-kisah mitologi Tiongkok.
Xu Wei duduk setelah ditarik oleh Cheng Xianzhi, baru saat itulah ia sadar bahwa ia telah ditarik sepanjang jalan.
Di saat tidak ada yang melihat, ia mengusap pergelangan tangan kirinya; suhu tubuh Cheng Xianzhi seolah masih tertinggal di sana.
Saat ia sedang melamun, permainan sudah dimulai.
Zhou Jiting mengapit rokok di bibirnya, menatap kartu di tangannya dengan tatapan penuh kemenangan.
Asap rokok mengepul, terbawa embusan AC ke arah Xu Wei.
Xu Wei tanpa sadar mengerutkan kening, menatap kartu Cheng Xianzhi dengan saksama. Ia tidak tahu apakah kartu Cheng Xianzhi bagus atau buruk, namun melihat ekspresinya yang tenang, ia yakin pria itu sudah punya strategi.
Cheng Xianzhi melirik orang di sampingnya yang sedang memperhatikan kartunya dengan serius, alisnya yang halus sedikit berkerut, dan sesekali ia menutup hidung dengan tangan.
Ia mengangkat pandangan, suaranya datar, "Matikan rokokmu."
"Hongzhong." Zhou Jiting baru saja membuang kartu dan menyadari tatapan Cheng Xianzhi tertuju pada rokok di mulutnya. Ia menjepit rokoknya, "Hah?"
Ia tidak paham. Cheng Xianzhi tidak merokok, apakah itu artinya orang lain juga dilarang merokok?
Xu Qirang diam-diam membuang kartu, melirik Xu Wei sekilas, lalu tersenyum tipis, "Matikan saja, Jiting. Istriku sedang merencanakan kehamilan, merokok tidak baik."
Zhou Jiting baru saja ingin membalas bahwa rencana kehamilan istri Xu Qirang tidak ada hubungannya dengan larangan merokok orang lain, namun ia mendengar Xu Qirang menambahkan: "Di sini ada dua wanita, kau harus jaga sikap."
Zhou Jiting: "......"
Baiklah, tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Ia pun mematikan rokoknya.
Setelah beberapa putaran, entah karena keberuntungan Zhou Jiting sedang bagus atau bagaimana, ia menang berturut-turut dan merasa sangat percaya diri.