Bab 16: Pengakuan
Halaman (1/3)
Setelah pergi mengikuti Duan Huai, hati Wen Jiu masih diliputi kegelisahan.
“Duan Huai, malam itu aku—”
“Belum kenyang, ya?” Duan Huai memasangkan helm ke kepalanya. “Aku benar-benar tidak terbiasa dengan makanan Barat. Daging sapi yang begitu bagus malah tidak dimasak matang. Begitu disayat, darahnya masih merembes.”
Ia menaiki sepeda motornya lalu menyalakan mesin.
“Ayo, kubawa kau makan sate panggang!”
Wen Jiu berdiri di sampingnya dan berpikir sejenak. Ia mengangkat rok, lalu naik ke jok belakang.
Sepeda motor itu melaju secepat kilat, melewati deretan mobil mewah yang terjebak macet di jalan utama.
Duan Huai berkata dengan bangga, “Kendaraan beroda dua juga punya kelebihannya sendiri. Setidaknya dalam situasi seperti ini, para pemilik mobil beroda empat hanya bisa iri kepada kita!”
Perasaan Wen Jiu pun sedikit lebih lega. Ia meletakkan kedua tangannya dengan ringan di pinggang Duan Huai, lalu berteriak, “Benar!”
Bukan hanya kendaraan beroda dua yang lebih cepat daripada kendaraan beroda empat, daging sate yang matang juga jauh lebih lezat daripada steik yang setengah mentah.
Sate itu agak pedas. Wen Jiu sampai terengah-engah kepedasan, sementara Duan Huai bahkan memamerkan kemampuannya membuka minuman bersoda dengan satu tangan.
Akhirnya, ia melupakan semua hal tidak menyenangkan sebelumnya. Bahkan setelah tiba di bawah gedung apartemennya, senyum di wajahnya masih belum sirna.
Duan Huai menerima helm yang dikembalikannya, lalu diam-diam memperhatikannya merapikan rambut.
“Terima kasih banyak untuk hari ini,” ujar Wen Jiu dengan tulus. “Awalnya aku ingin mentraktirmu makan, tapi malah kau yang membawaku makan panggangan selezat itu.”
Ia benar-benar merasa tidak enak hati.
“Kalau lain kali kau senggang, aku akan mentraktirmu sebagai balasan.”
Duan Huai menunduk. Tatapannya tertuju pada helm di tangannya, sama sekali tidak berani menatap Wen Jiu.
Wen Jiu menunggu cukup lama, tetapi tidak kunjung mendapat jawaban. Ia memiringkan kepala dan bertanya, “Ada apa?”
Duan Huai mengusap-usap helm di tangannya, lalu tiba-tiba bertanya, “Lain kali, boleh kubelikan helm merah muda untukmu?”
“Merah muda?” Wen Jiu tidak mengerti. “Yang ini bukankah sudah cukup bagus—”
“Kelak kau mungkin akan sering memakainya.” Duan Huai memandang ke langit lalu ke tanah, pokoknya tidak berani menatapnya. “Akan kubelikan yang lebih bagus. Khusus untukmu.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Wen Jiu tertegun, lalu segera memahami maksudnya. Ujung telinganya pun mulai terasa panas.
“Ti-tidak perlu…” Ia juga tidak berani menatap Duan Huai dan hanya menunduk, memandangi ujung kakinya. “Kalau merah muda, dipakai di kepala akan terlihat agak konyol…”
Keduanya kembali terdiam. Setelah beberapa lama, Wen Jiu akhirnya mengumpulkan keberanian untuk berkata kepada Duan Huai, “Malam itu aku memang pergi ke kamar untuk menemui Huang Ziyao, tetapi tidak terjadi apa-apa.”
Duan Huai tidak menyangka pembicaraan akan beralih ke sana. Ia buru-buru berkata, “Aku tidak—”
Wen Jiu melanjutkan dengan sekali embusan keberanian, “Luka-luka di sekujur tubuhku yang kau lihat malam itu disebabkan oleh Huang Ziyao. Namun, sebelum dia sempat melakukan apa pun, para petugas sudah datang…”
Saat memikirkan “para petugas” itu, pandangan Wen Jiu tampak mengelak.
“Oh, ya. Malam itu aku memintamu membantu menghubungi hotel agar petugas pemeriksaan datang, bukan? Aku ingin menghindari Huang Ziyao. Untung semuanya masih sempat ditangani. Huang Ziyao hanya memukulku. Sungguh, tidak ada hal lain yang terjadi…”
Nada suaranya terdengar tergesa-gesa, seolah ingin membuktikan sesuatu. Namun, sebelum selesai menjelaskan, sepasang lengan yang lebar telah memeluknya.
“Aku tahu.”
Duan Huai menghela napas pelan. “Wen Jiu, kau tidak perlu menjelaskan kepadaku. Aku tidak pernah tidak mempercayaimu. Aku hanya merasa kasihan kepadamu.”
Penampilannya memang seperti pria kasar yang tidak banyak berpikir, tetapi sebenarnya ia sangat perhatian. Bahkan saat memeluk pun ia tidak bertindak berlebihan. Ia hanya merangkul punggung Wen Jiu dengan satu tangan, membiarkannya berada dalam pelukan yang longgar.
Wen Jiu tidak menyukainya, tetapi juga tidak membencinya.
Ia tidak mendorong Duan Huai menjauh. Dengan kepala tertunduk, setelah sekian lama ia akhirnya menggumamkan, “Hm.”
“Ini hanya sebuah pekerjaan. Kalau tempat ini tidak cocok, cari tempat lain.” Duan Huai menepuk punggungnya, menganggapnya sebagai penghiburan. “Jangan pernah mencelakai dirimu sendiri demi pekerjaan.”
Hidung Wen Jiu terasa perih. Ia hampir menangis.
Semua orang hanya mengira ia melakukan semua itu demi pekerjaan. Hanya dirinya sendiri yang tahu, sebenarnya demi apa ia bertahan.
Lima tahun. Selama lima tahun ia menyukai Junlan. Demi perasaan itu, ia telah mengorbankan terlalu banyak dan kehilangan terlalu banyak. Namun, ketika mengenangnya kembali sekarang, ia tidak lagi mampu membedakan apakah rasa sukanya itu ditujukan kepada Junlan sendiri, atau hanya kepada sebuah impian yang telah lama ia genggam.
Ketika seseorang telah menanamkan terlalu banyak pengorbanan dalam sebuah hubungan, melepaskannya pun menjadi begitu sulit.
Untuk menyamarkan emosinya, Wen Jiu mengendus pelan, lalu sengaja bertanya, “Bagaimana bisa seorang polisi mengatakan hal seperti itu? Ingat, saat pertama kali kita bertemu, lenganmu masih dibalut perban. Bukankah itu juga karena terluka demi pekerjaan?”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Duan Huai menjawab dengan serius, “Aku seorang polisi. Tugasku adalah melindungi rakyat. Kau tidak boleh membandingkan dirimu denganku.”
Ia benar-benar bertanggung jawab.
Wen Jiu tersenyum. Ia mendorong Duan Huai dengan lembut, hendak memintanya melepaskan pelukan, tetapi tangan di punggungnya tiba-tiba mengerat dan menekannya sepenuhnya ke dalam pelukan.
Menembus kain pakaian yang tipis, ia dapat mendengar detak jantung Duan Huai.
Semakin lama semakin cepat.
“Wen Jiu.”
Suara sang polisi mulai bergetar. “Selain sebagai hubungan antara polisi dan rakyat, maukah kau mengubah status kita agar aku bisa melindungimu?”
…
Wen Jiu tetap tidak memberikan jawaban kepada Duan Huai.
Namun, ia juga tidak sepenuhnya menolaknya.
Memang, ia telah mengorbankan terlalu banyak sebelumnya. Akan tetapi, ketika tahu bahwa akhir dari sebuah hubungan tidak mungkin sesuai harapan, ia tetap harus menahan sakit dan melepaskannya.
Baik Junlan maupun impiannya sendiri, semuanya harus berakhir sampai di sini. Setelah mengundurkan diri dari Junsheng, ia akan benar-benar membereskan perasaannya dan menjalin hubungan dengan Duan Huai tanpa menyisakan apa pun.
Memikirkan hal itu, langkah Wen Jiu terasa jauh lebih ringan. Ia menggesekkan kartu akses untuk membuka pintu, lalu baru saja melangkah ke lorong ketika seseorang tiba-tiba muncul dari dalam kegelapan dan membantingnya ke dinding.
Wen Jiu tinggal di sebuah rumah bekas, di gedung tua. Lampu lorongnya sudah lama rusak, tetapi tidak pernah ada yang memperbaikinya. Melihat sosok yang mendadak muncul, ia seketika hendak menjerit.
“Ini aku.”
Suara Junlan terdengar tertahan dan terengah-engah. Saat berbicara, aroma alkohol menguar di sekitar leher Wen Jiu, seolah-olah ia sedang menunggu kesempatan untuk menggigitnya.
Suasana berbahaya menyebar di lorong yang sempit itu. Wen Jiu mendengar pria tersebut bertanya dengan suara serak, “Sebegitu kekurangan prianya kau? Kalau polisi kecil itu tahu bahwa kau pernah menjadi kekasih gelapku selama setahun, menurutmu, apakah dia masih akan menginginkanmu?”
Halaman (3/3)