Bab 54: Dia Juga Tidak Luput dari Kebiasaan Itu
Grup Lingyue.
Setelah merapikan berkas-berkas, Shen Nanyin mengikuti Jiang Man untuk menemui pihak mitra kerja sama.
Melihat Chen He, kilatan keterkejutan melintas di dasar matanya.
"Nanyin," sapa Chen He sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Setelah Shen Nanyin bersalaman dengannya, pandangan Jiang Man beralih di antara keduanya, lalu berkata sambil tersenyum, "Kalian berdua sudah saling kenal?"
Chen He berkata dengan lembut, "Aku dan Nanyin adalah teman sekelas saat SMA."
"Kalau begitu, ini benar-benar sebuah kebetulan." Jiang Man melontarkan beberapa kalimat basa-basi sambil tersenyum. Bagaimanapun juga, ini adalah urusan bisnis, dan karena mereka sudah saling kenal, pembicaraan pun bisa berjalan lebih lancar.
Kemampuan Lingyue sudah terbukti, ditambah lagi dengan proposal yang dibuat secara sangat terperinci dan matang, kedua belah pihak pun pada dasarnya mencapai kesepakatan.
Setelah semuanya selesai, Jiang Man memuji proposal Shen Nanyin sambil tersenyum dan memberinya hadiah izin pulang lebih awal.
Begitu Jiang Man pergi, Chen He berjalan ke sisi Shen Nanyin.
"Mau makan bersama?"
Shen Nanyin menolak dengan sopan, "Maaf, aku masih ada urusan sebentar lagi."
Ia menurunkan pandangannya dan membuka aplikasi pemesanan taksi di ponselnya.
Namun, tepat pada saat itu, Chen He membuka suara dengan lembut.
"Maafkan aku, waktu itu... meskipun keluarga kami turun-temurun berprofesi sebagai dokter, kami tetap tidak berhasil menyelamatkan nenekmu."
Mendengar kalimat itu, gelombang emosi besar melintas di hati Shen Nanyin. Ia mendadak menoleh kepadanya dan bertanya dengan tidak percaya.
"Biaya pengobatan waktu itu, apakah itu darimu?"
Chen He mengangguk, "Direktur rumah sakit adalah ayahku."
Dalam sekejap, pikiran Shen Nanyin menjadi kacau balai. Semasa SMA, ia sama sekali tidak tahu bahwa Chen He berasal dari keluarga tabib terkemuka, apalagi mengetahui bahwa ayahnya adalah direktur rumah sakit.
Tunggu, itu tidak mungkin.
Ia mendadak sadar dalam sekejap.
Jelas-jelas selama bertahun-tahun ini, ia telah mencoba berbagai cara untuk menghubungi orang baik itu, tetapi pihak itu tidak pernah memberikan tanggapan apa pun kepadanya dan tidak bersedia membiarkannya mengetahui identitas mereka.
Lalu bagaimana mungkin orang itu adalah pria di hadapannya ini, yang dengan jelas sengaja mengangkat topik tersebut.
Setelah berpikir sejenak, Shen Nanyin mencoba bertanya untuk memancing kepastian.
"Chen He, pada hari pengumuman hasil ujian bulanan saat itu, apakah kamu yang meletakkan payung dan cokelat di mejaku?"
Pria itu melengkungkan bibirnya, "Iya, aku takut kau tidak mau menerima barang dariku, jadi aku meletakkannya di meja lalu pergi."
Padahal hari itu jelas-jelas adalah segelas teh susu.
Shen Nanyin sedikit mengerutkan kening dan terus bertanya, "Jangan-jangan jaket yang kau berikan padaku di rumah sakit waktu itu juga darimu?"
Meskipun merasa bingung dengan perubahan nada bicaranya, Chen He tetap berbicara dengan suara lembut, "Pakaianmu tipis saat itu, aku takut kau masuk angin."
Mendengar perkataan ini, gadis itu mendadak tertawa.
Alis dan matanya yang dingin merenggang, tampak begitu cantik dan hidup, membuat pria itu tertegun sejenak.
Namun, tepat setelah itu, ia mendengar suara dinginnya.
"Chen He, hari ujian bulanan itu bukan cokelat, melainkan segelas teh susu."
Pria itu sedikit tertegun, lalu berkata tanpa mengubah ekspresi, "Sudah begitu lama berlalu, mungkin aku yang salah ingat."
Benar, lima tahun telah berlalu, sangat mungkin melupakan detail kecil seperti itu, tetapi ada satu hal yang sama sekali tidak mungkin salah diingat.
Shen Nanyin menghela napas pelan dan menatapnya lekat-lekat.
"Kau tahu? Saat musibah nenek terjadi adalah musim panas, jadi saat itu sama sekali tidak ada orang yang memakaikan jaket untukku."
Taksi yang dipesannya telah tiba. Shen Nanyin tidak lagi memerhatikan ekspresi wajah pria di belakangnya yang mendadak membeku, lalu berbalik dan pergi.
---
Kembali ke Nanyuan, Shen Nanyin makan malam dan kemudian berbaring di sofa sambil melamun.
Kejadian barusan membuatnya tiba-tiba teringat akan satu hal lagi.
Saat ia terbangun setelah tenggelam di masa lalu, ia sudah berbaring di ranjang ruang UKS, sementara Chen He duduk di sampingnya dengan pakaian basah kuyup, sehingga ia secara refleks mengira Chen He lah yang menyelamatkannya.
Jika diingat-ingat sekarang, seragam sekolah biru putih memang basah, tetapi sosok yang dilihatnya dalam kabut samar-samar tampaknya adalah bayangan hitam.
Terlebih lagi, Chen He di sekolah adalah representasi murid teladan yang tidak mungkin melakukan tindakan melanggar aturan seperti tidak mengenakan seragam sekolah.
Mengingat hal ini, Shen Nanyin baru menyadari bahwa orang ini benar-benar... penuh dengan kebohongan.
Dirinya bahkan tertipu begitu lama seolah-olah ia adalah orang bodoh.
Begitu teringat bagaimana ia menoleransi begitu lama demi utang budi penyelamatan nyawa yang mungkin bahkan tidak pernah ada itu, ia merasa sangat kesal dan muak.
Sinar matahari sore menembus jendela dari lantai ke langit-langit, menghangatkan ruangan hingga membuat orang mengantuk.
Ia berbaring di sofa sambil mengenang masa lalu, dan perlahan-lahan jatuh tertua lalu bermimpi.
Dalam mimpinya, itu adalah sebuah kompetisi debat semasa kuliah.
Tim pemenang akan mendapatkan hadiah uang yang berlimpah, jadi ia langsung mendaftarkan diri.
Demi memenangkan hadiah tersebut, dalam waktu singkat satu bulan, ia menghabiskan waktu paginya untuk mengumpulkan data dengan giat, sore harinya berlatih simulasi debat, serta mempersiapkan materi mosi debat untuk pihak pro maupun kontra secara matang.
Pada hari tampil di atas panggung, semua serangan dari pihak lawan berada dalam cakupan prediksinya, dan ia membalasnya satu per satu.
Ketika pembelaan terakhir usai dan ia duduk kembali, pandangannya tanpa sengaja melirik ke arah kursi juri di bawah panggung.
Pria yang duduk di tengah memiliki paras yang mencolok dan alis yang tajam. Waktu telah memolesnya menjadi sedikit lebih tenang, namun tidak mampu menyembunyikan temperamen tajamnya. Tindik logam yang familier di tulang telinganya memantulkan cahaya dingin.
Ia tidak memerlukan papan nama untuk langsung mengenalinya—
Lu Jingyan.
Kepercayaan diri yang tadinya sembilan puluh persen runtuh seketika, dan ia mulai terus-menerus merenungkan apakah penampilannya barusan sudah cukup baik, apakah sudah cukup sempurna.
Hingga pengumuman hasil dibacakan, pria tersebut, yang bertindak sebagai pihak investor sponsor, naik ke panggung untuk menyerahkan penghargaan kepadanya.
Buket bunga mawar dan piala diserahkan secara bersamaan ke tangannya, sementara ujung jari yang hangat bersentuhan sekejap dengan punggung tangannya lalu menjauh.
"Selamat." Suara santai itu terdengar seperti biasa.
Warna merah muda yang cerah dan lembut, kelopak bunga yang bertumpuk-tumpuk, dibungkus dalam kertas pembungkus putih bersih dan diikat dengan pita.
Ia tanpa sadar meremas piala yang terasa dingin di tangannya, lalu menjawab dengan suara yang lebih pelan, "Terima kasih."
Shen Nanyin terbangun, senja telah turun di luar jendela.
Ia berdiri di dekat pulau dapur dan menuangkan segelas air untuk dirinya sendiri.
Ia tadinya mengira dirinya tidak memiliki kegelisahan semacam itu.
Namun kenyataannya adalah karena tidak ada kegiatan bersama antara kelas sepuluh dan kelas dua belas.
Oleh karena itu, ia tidak pernah bertemu dengan Lu Jingyan saat ujian lari delapan ratus meter, saat dikritik oleh wali kelas, atau dalam berbagai situasi canggung lainnya.
Gadis di masa pubertas selalu mendapati pandangan mereka tanpa sadar tertarik oleh sosok yang mencolok dan penuh ketajaman yang agresif.
Setelah jeda lima tahun, ia baru menyadari bahwa dirinya ternyata juga tidak luput dari hal itu.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Lu Jingyan melihat gadis itu mendadak mengangkat pandangannya, lalu mengalihkan pandangannya dengan panik.
Pria itu mau tak mau mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi setengah tersenyum, "Perbuatan buruk apa yang baru saja kau lakukan?"
Bisa dibilang pikirannya telah tepat sasaran, ia mengangkat cangkirnya dengan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, meneguk sedikit air, lalu menjawab dengan berpura-pura tenang: "Tidak ada kok."
Asisten Liu mengekor di belakangnya sambil membawa seekor ikan kerapu segar yang masih melompat-lompat lincah.
Setelah menyapa Shen Nanyin, meletakkan ikan tersebut, asisten itu pun pamit pergi.
Shen Nanyin mengintip ke dalam dengan rasa penasaran, "Kita makan ikan hari ini?"
"Hmm." Pria itu mengenakan apron, "Bagaimana kalau ikan kerapu asam manis?"
Ikan kerapu asam manis?
Ia menatapnya dengan heran, "Banyak sekali masakan yang bisa kau buat."
Ia bahkan bisa memasak hidangan rumit khas Jiangsu seperti ikan kerapu asam manis.
Lu Jingyan berjalan melewati belakangnya, mendekat dan mencium pipinya sekilas.
"Keahlian dasar untuk menikahi Nyonya Lu."