Bab 39: Sosok yang Datang Tiba-tiba
Halaman (1/3)
Mendengar perkataannya, Li Wenqiao benar-benar tidak bergerak lagi.
Dagu Ye Hanxi bersandar di rambutnya. Jari-jarinya yang panjang menyelusup di antara jemari Li Wenqiao lalu mengait erat tangan mereka, sementara lengannya perlahan mengencang, seolah-olah takut perempuan itu akan melarikan diri.
Rintik hujan yang berderai mengetuk hatinya. Setiap tetes membuat jantungnya bergetar.
Begitu seorang pria dan wanita telah menjalin hubungan fisik, rasanya sulit lagi membedakan apakah itu cinta atau bukan.
Sambaran petir melintas di luar jendela. Li Wenqiao terkejut hingga meringkuk, disusul suara guntur yang menggelegar!
Namun di luar dugaan, suara guntur itu tidak membuatnya takut, sebab bersamaan dengan datangnya guntur, ciuman Ye Hanxi pun menerjangnya bagaikan hujan deras!
Ia menutup telinga Li Wenqiao, lalu menciumnya dengan begitu dalam, seolah hendak menelan segala sesuatu.
Ketika Li Wenqiao membuka mata, yang dilihatnya adalah mata Ye Hanxi yang penuh hasrat. Tatapannya sulit dibedakan, apakah sedang menguji atau ingin menguasai. Yang jelas, setiap ciuman yang jatuh di tubuhnya membuat sekujur tubuh Li Wenqiao gemetar!
Kerinduan seketika meluap tak terkendali! Rasa tidak senang beberapa hari terakhir seolah telah dilarutkan oleh gejolak saat ini!
Li Wenqiao memegang wajahnya, jari-jarinya perlahan menyusup ke rambut pria itu. Dari bibirnya, ia terus memanggil, “Hanxi,” seolah takut pria itu akan pergi, atau seolah sedang berusaha memastikan sesuatu.
Setiap kali ia memanggil, Ye Hanxi akan menjawab. Suaranya yang dalam dan berat terasa menggesek ujung hatinya, menimbulkan rasa perih sekaligus geli.
Pakaian yang telah kusut melorot ke lantai. Di atas seprai yang berantakan, sepasang pria dan wanita berpelukan dalam kemesraan.
Suara guntur bercampur dengan erangan lembut, sementara keringat mengalir deras seperti air hujan.
Pada akhirnya, Li Wenqiao melingkarkan tangan di lehernya dan membenamkan wajah dalam-dalam di lekuk leher pria itu. Dadanya naik turun dengan keras, suaranya pun terdengar tidak stabil.
“Hanxi, jangan tinggalkan aku lagi.”
…
Setelah melewati malam yang penuh gejolak, ketika Li Wenqiao terbangun kembali, sosok di sisinya telah lama menghilang.
Li Wenqiao berpikir, mungkin kejadian semalam hanyalah luapan emosi sesaat. Bukankah pria dan wanita mana pun yang memiliki hubungan fisik, dalam keadaan seperti itu, akan melakukan hal yang sama?
Namun ketika ia membalikkan tubuh, pemandangan di hadapannya menusuk hatinya.
Di sisi bantalnya tergeletak setangkai mawar yang masih dihiasi embun. Melihat bentuknya, bunga itu tampaknya dipetik dari taman belakang.
Perhiasan mahal sudah terlalu sering diterimanya. Bagi orang kaya, tanpa perlu diperintah, para bawahan akan mengurus semuanya dengan sempurna.
Sebagian adalah kompensasi, sebagian lainnya merupakan transaksi.
Namun mawar yang dipetik sendiri oleh pria itu adalah kenangan akan kemesraan mereka semalam, juga bentuk perhatian seorang pria kepada wanita setelah mereka melewati malam bersama.
Li Wenqiao mengambil bunga itu dan mendekatkannya ke hidung untuk menghirup wanginya.
Dari lantai bawah terdengar samar suara orang berbicara. Tanpa terlalu memikirkannya, ia merapikan diri lalu turun.
Namun baru setengah jalan, langkahnya mendadak terhenti.
Di tengah aula, Ye Hanxi sedang menggandeng tangan seorang anak laki-laki kecil sambil bertanya dengan penuh perhatian.
Li Wenqiao tentu tahu siapa anak itu. Selain putra Shen Zhibai, tidak mungkin Ye Hanxi menunjukkan kepedulian sebesar itu kepada anak lain.
Saat ia ragu apakah harus melanjutkan langkahnya, suara Nyonya Ye terdengar dari belakang.
“Hanxi, apa yang terjadi?”
Halaman (1/3)
Nyonya Ye turun sambil berbicara, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tak mampu disembunyikan.
Ye Hanxi menggandeng tangan Xiao Hui dan berjalan beberapa langkah ke hadapannya.
Ia berjongkok, lalu mengusap punggung Xiao Hui. “Panggil Nenek Ye.”
Xiao Hui menatap orang di hadapannya. “Halo, Nenek Ye.”
Suara lembut dan cadel dari mulut si kecil itu membuat Nyonya Ye tiba-tiba tidak tahu bagaimana harus marah.
Ia berdeham, lalu menjawab dengan enggan.
Ye Hanxi mengusap rambut Xiao Hui, kemudian berdiri dan menjelaskan kepada Nyonya Ye, “Shen Zhibai pergi ke luar negeri karena ada urusan. Tidak ada yang menjaga Xiao Hui, jadi aku membawanya kemari untuk tinggal beberapa hari.”
Mendengar itu, Li Jiajia yang sedang duduk di sofa sambil mengupas kuaci tampak sangat bersemangat. Ia memiringkan tubuh dan menyentuh bahu Ye Nanzhi.
“Apa yang terjadi? Kakakmu mau membesarkan anak orang lain?”
“Jangan asal bicara!” tegur Ye Nanzhi dengan suara rendah.
Li Jiajia mengerucutkan bibir dengan kesal.
Nyonya Ye berjalan ke dekat pintu masuk, lalu berkata kepada Ye Hanxi, “Kau harus tahu batas dalam segala hal. Aku tidak akan mengatakan lebih banyak.”
Ye Hanxi menjawab singkat, “Hm.”
Nyonya Ye tidak berkata apa-apa lagi. Setelah mengganti sepatu, ia memanggil sopir lalu pergi.
Li Jiajia melihat Nyonya Ye masuk ke mobil. Ia segera melemparkan kuaci kembali ke piring buah, lalu berjalan beberapa langkah ke hadapan Xiao Hui.
“Adik kecil, umurmu berapa?”
Xiao Hui mengedipkan kedua matanya yang besar, menatap Li Jiajia dari atas hingga bawah.
Detik berikutnya, ia tiba-tiba memeluk kaki Ye Hanxi dan menangis keras.
“Paman Ye, aku takut!”
Wajah Li Jiajia seketika merosot. Dalam hati ia berpikir, anak ini benar-benar mewarisi kepandaian Shen Zhibai dalam berpura-pura polos dan lemah. Namun—ia menyukainya!
Dengan pikiran itu, ia menoleh kepada Li Wenqiao. Li Wenqiao tampak mencengkeram pegangan tangga, wajahnya kian memburuk.
Jelas Ye Hanxi juga melihatnya.
Ia menggandeng tangan Xiao Hui dan berjalan beberapa langkah ke hadapan Li Wenqiao.
“Kalau bibi ini bagaimana? Kau suka?”
Xiao Hui menatap Li Wenqiao dengan mata besarnya yang bulat. Ekspresinya perlahan menjadi lembut. Ia malu-malu memeluk kaki Ye Hanxi, lalu berkata pelan, “Suka.”
Melihat reaksinya, Ye Hanxi akhirnya tersenyum.
Ia mengangkat Xiao Hui, lalu menggandeng tangan Li Wenqiao. Setelah itu, ia meletakkan tangan Xiao Hui ke telapak tangan Li Wenqiao.
“Kalau begitu, selama beberapa hari ini biar bibi ini menemanimu, ya?”
Xiao Hui melingkarkan tangan di leher Ye Hanxi dan mengangguk malu-malu.
Li Wenqiao memandangi sosok kecil di hadapannya. Seharusnya ia membenci anak itu. Namun saat Xiao Hui mengedipkan mata besarnya dan dengan malu-malu menunjukkan bahwa ia menyukainya, jantung Li Wenqiao seakan tertusuk sesuatu.
Ia menyentuh tangan Xiao Hui, lalu kembali ke kamar dengan perasaan yang rumit.
Tak lama kemudian, Ye Hanxi menyusul masuk.
Li Wenqiao menatap ke belakangnya. “Anaknya mana?”
Ye Hanxi tidak menjawab. Ia justru duduk di sisinya.
Halaman (2/3)
Ia mengambil sehelai rambut Li Wenqiao dan memainkannya di antara jemari.
Li Wenqiao mengulurkan tangan lalu menarik rambutnya kembali.
Ye Hanxi tidak terburu-buru ataupun marah. Ia kembali mengambil sejumput rambut dan melilitkannya di jari.
“Ye Hanxi.”
Li Wenqiao tidak tahan lagi. Ia mengangkat kepala dan menatapnya. Mata pria itu yang sipit dan memanjang seolah menyimpan senyum.
“Apa maksudmu?” tanya Li Wenqiao sambil mengernyitkan dahi.
Ye Hanxi tersenyum. “Apa kau mulai melunak?”
Li Wenqiao memalingkan wajah. “Untuk apa aku melunak?”
Ye Hanxi menyibakkan rambutnya, melilitkan semuanya pada telapak tangan, lalu melepaskannya.
Ia menarik napas, seolah telah mengambil keputusan penting.
“Sebelum Xiao Hui lahir, ayahnya sudah meninggal. Karena itu, sifatnya agak sensitif.”
Li Wenqiao bersandar di sofa tanpa menjawab.
Ye Hanxi membungkuk, dadanya menempel pada separuh tubuh Li Wenqiao.
“Anggap saja dia anak biasa. Dia hanya akan tinggal beberapa hari. Bisa?”
Li Wenqiao menoleh. Dengan mata yang berkilau, ia menatap lekat mata Ye Hanxi.
“Jadi, kau pulang menerobos hujan semalam hanya demi urusan ini?”
Tangan Ye Hanxi yang sedang membelai rambutnya terhenti.
“Apakah kau peduli?”
Peduli?
Mengingat saat Ye Hanxi memeluknya dari belakang, ia memang peduli.
Namun dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin ia mengungkapkan kepedulian itu?
Li Wenqiao menghela napas, lalu mengangkat tangan untuk menyibakkan rambutnya yang telah dibuat berantakan ke belakang kepala.
“Kau sudah mengambil keputusan. Sekarang, apa gunanya menanyakannya kepadaku?”
Ye Hanxi mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. Ia mengangkat tangan dan mengusap lembut sudut mata Li Wenqiao. Kapalan tipis di ujung jarinya membuat kulitnya terasa geli.
“Aku bertanya karena sedang menunggu jawabanmu.”
Jantung Li Wenqiao tiba-tiba berdebar. Ia tidak tahu pertanyaan mana yang sedang ditunggu jawabannya oleh Ye Hanxi.
Ia menelan ludah, lalu berdeham.
“Aku bukan orang jahat seperti Shen Zhibai. Masa aku tidak bisa menerima seorang anak yang hanya tinggal sementara?”
Ye Hanxi menatapnya dengan senyum yang sulit ditebak, matanya seolah menyimpan genangan air.
Perubahan sikapnya yang mendadak membuat Li Wenqiao kebingungan.
Namun teringat perkataan pria itu barusan, kesedihan samar melintas di hatinya.
“Lagipula, aku juga tidak punya ayah, bukan?”
Halaman (3/3)